Sumenep (beritajatim.com) – Hingga saat ini, jumlah pendonor sukarela aktif di Sumenep masih sangat minim. Dampaknya, PMI Sumenep selalu mengalami kekurangan stok darah.
Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sumenep, Madura, Edy Rasiyadi mengatakan, sesuai data di UTD PMI, kebutuhan darah di Sumenep pada kisaran 800-900 kantong setiap bulan.
“Sedangkan untuk stok darah di PMI Sumenep setiap bulannya pada kisaran 600-650 kantong darah. Jadi masih di bawah kebutuhan,” katanya, Selasa, 3 September 2024.
Karena itulah, lanjut Edy, di hari PMI ini, ia mengajak warga Sumenep untuk menjadi pendonor sukarelawan aktif, agar kebutuhan darah setiap bulannya bisa terpenuhi.
“Kami juga rajin turun ke bawah (turba), baik ke sekolah-sekolah, maupun ke instansi-instansi, serta organisasi kemasyarakatan. Kami berkoordinasi, dengan harapan karyawan maupun anggotanya bersedia mendonorkan darahnya,” ujar Edy.
Ia menambahkan, PMI Sumenep juga sering memanfaatkan kegiatan atau acara yang menghadirkan banyak orang, dengan membuka layanan donor darah di tempat.
“Misalnya car free day, pameran, atau ada kegiatan lain yang berpotensi dihadiri banyak orang, maka kami akan ke lokasi. Yang berminat donor darah, bisa langsung donor darah di tempat,” ujarnya.
Selain itu, lanjutnya, PMI Sumenep juga bekerja sama dengan PMI Surabaya, untuk memenuhi kebutuhan darah golongan tertentu apabila dibutuhkan.
“Pernah terjadi, tapi tidak sering ya, di Sumenep kekurangan stok darah dan kami harus mengambil dari PMI Surabaya. Kami memang telah bekerja sama dengan PMI Surabaya,” terangnya.
Ia menduga masih minimnya jumlah pendonor sukarela di Sumenep karena masyarakat khawatir PMI menjual darah yang mereka donorkan.
“Padahal tidak seperti itu. Yang ada hanya mengganti kantong darah, kemudian biaya tes darah. Itupun dengan besaran sesuai peraturan Menteri Kesehatan. Kami sudah tempelkan regulasi itu. Tidak ada jual beli darah di PMI,” tandasnya. [tem/beq[






