Malang (beritajatim.com) – Tim pengabdian Departemen Sastra Indonesia FS Universitas Negeri Malang (UM) menggelar kegiatan penguatan kompetensi drama sekolah berperspektif GESI untuk SMK se-Kota Malang. Penguatan dilakukan seminar dan lokakarya di aula Ava tersebut dengan dihadiri 45 guru Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di kota Malang.
Lokakarya dan seminar mengusung tema ‘Penguatan Gender Equality And Social Inclusion (GESI) Pada Guru Bahasa Indonesia SMK Kota Malang dalam rangka membangun pendidikan yang berkualitas dan inklusif melalui penulisan naskah drama,’. Kegiatan ini didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM, pada Jumat (18/8/2023).
Tim pengabdian, Prof. Dr. Hj. Yuni Pratiwi, M.Pd dalam sambutannya memaparkan tujuan kegiatan adalah mendorong para guru mengumpulkan ide dari berbagai sumber serta membuat kerangka cerita berperspektif GESI untuk pembelajaran yang bermutu, edukatif, dan menuntun pembelajaran yang inklusi. Pada kegiatan tersebut, Prof Yuni menyampaikan fragmentasi penting dalam penulisan naskah drama.
“Kami memberi materi mengenai pesan inklusi sosial, refleksi kontemplasi dalam rangkaian cerita yang variatif, dan pelibatan proses sastrawi yang imajinatif. Modalitas guru dalam mengalihwahanakan suatu elemen peristiwa sosial menjadikan dasar untuk menggali kemampuan penentuan topik maupun eksplorasi pengembangan ide cerita naskah bermuatan GESI,” terangnya.
BACA JUGA:
Guru Besar UM Malang: Masyarakat Jawa Miliki Aporisma ‘Weruh Sadurunge Winarah’
GESI merupakan perspektif penting yang harus dimiliki oleh semua guru. Dengan perspektif ini diharapkan guru dapat menguatkan nilai kesetaraan pada peserta didik sehingga kasus kekerasan berbasis gender, perundungan, dan pengabaian hak dapat diminimalkan. SMK dengan peserta didik yang terbagi dalam berbagai program keahlian sangat penting mendapatkan pemahaman GESI.
“Salah satu upaya yang ditempuh adalah dengan mengintegrasikan GESI dalam sumber belajar, media belajar yang salah satunya berupa drama sekolah,” jelas Prof Yuni.
Dalam sambutannya, ketua MGMP Bahasa Indonesia Kota Malang, Ananto Widodo, S.Pd menyambut baik kegiatan yang melibatkan guru-guru SMK. Ia mengakui, meskipun konsep tentang GESI telah sering didengar, tetapi dalam implementasinya sering diabaikan.
“Kami berharap kegiatan yang melibatkan guru lebih sering dilakukan sehingga para guru selalu belajar untuk meningkatkan kompetensi guru,” ungkapnya.
Materi lainnya yang disampaikan oleh Dr. Azizatus Zahro, S.Pd, M. Pd. Ketua Departemen Sastra Indonesia menguraikan tentang konsep GESI dalam penulisan naskah drama. Materi penting terkait konsep GESI di antaranya, konsep GESI sebagai pandangan, gerakan, dan metode analisis program, kegiatan, atau realitas sosial.
“Setiap gender, setiap orang memiliki hak yang setara. Perbedaan gender dan aspek sosial lain tidak boleh menyebabkan salah satu pihak mengalami ketidakadilan. Oleh karena itu penting merujuk pada landasan berpikir dan internalisasi pola sosial yang adil sesuai dengan kondisi masing-masing (kesetaraan),” kata dosen pemerhati gender tersebut.

Penguatan materi GESI dalam penulisan drama dan pementasan dilanjutkan oleh Dr. Karkono, SS, MA. Karkono memberikan penguatan materi kepada guru-guru SMK se-Kota Malang, bahwa titik lain cerita selain berfokus pada pengkreasian ide secara sosial berbasis gender, guru harus menguasai teknik dan preferensi lain dalam menulis naskah drama, salah satunya dengan teknik hipogram, yang merujuk pada teks menjadi acuan penciptaan cerita.
BACA JUGA:
LPPM UM Malang Luncurkan Laboratorium Alam
“Ada juga konsep ide logline yang berfokus pada tinjauan karakter utama ditambah dengan tujuan konflik (konsep peran dan konsep konflik). Ide tersebut pula didukung pembangun ceritanya yang meliputi suara latar dan sudut pandang tokoh. Asumsi perlu dikuasai pendidik dalam membangun teknik dalam menulis cerita,” ungkap Dosen sastra Indonesia FS UM ini.
Acara dilanjutkan diskusi bersama terkait tindak lanjut problematik penulisan naskah drama bermuatan GESI bersama guru SMK Se-Kota Malang bersama Dr. Dwi Sulistyorini, S.S, M.Hum. Diskusi dimulai dengan topik bahasan terkait permasalahan bullying siswa, karakterisasi gender di bangku sekolah, dan konsep netralitas gender.
“Acara ini bertujuan agar Guru Bahasa Indonesia jenjang SMK Kota Malang dapat memanfaatkan kompetensi yang telah didapat dari hasil pelatihan penulisan naskah secara terbimbing serta mengaplikasikan kompetensi tersebut secara langsung di lingkungan sekolah,” ungkap Dwi yang dosen FS UM ini. [dan/beq]






