Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) menjadikan momentum peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Minggu (17/8/2025), sebagai tonggak penting dalam kebijakan penerimaan mahasiswa baru. Di hadapan lebih dari 12.000 mahasiswa baru, UM mengumumkan komitmennya untuk memprioritaskan kesehatan mental.
Rektor Prof. Hariyono menegaskan data kesehatan psikis akan dibagikan kepada dosen untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan inklusif. Hal itu sejalan dengan semangat kemerdekaan dalam membangun kecerdasan bangsa. UM juga telah memetakan kondisi psikis setiap mahasiswa sejak awal masa studi mereka.
Kebijakan ini menjadi hal utama dalam agenda yang juga menandai pembukaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025 dan peluncuran logo Dies Natalis UM ke-71. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap mahasiswa, terutama yang memiliki kerentanan psikis, mendapatkan perlakuan yang tepat di lingkungan akademik.
Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., menjelaskan bahwa seluruh mahasiswa baru telah melalui tes kesehatan komprehensif sebelum melakukan registrasi. Hasil tes tersebut tidak hanya mengidentifikasi kondisi fisik, tetapi juga kondisi psikis.
”Ini menjadi penting agar kakak-kakak seniornya tahu kalau ada mahasiswa yang rentan, apakah itu karena fisik seperti jantung ataupun psikis karena dia memiliki trauma mental,” ujar Rektor Hariyono.
Ia menambahkan, data tersebut akan didistribusikan secara terbatas kepada pimpinan jurusan dan dosen wali. “Agar di dalam proses perkuliahan, dosennya paham. Mungkin untuk anak yang biasa dibentak itu hal yang biasa, tapi untuk anak-anak yang kebetulan ada masalah mental itu kan kurang tepat,” tegasnya.
Menurut Rektor Hariyono, kebijakan inklusif ini sangat sejalan dengan hakikat kemerdekaan. Ia menjadikan tradisi pembukaan PKKMB pada 17 Agustus sebagai pengingat bahwa kemerdekaan adalah pintu untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) secara merdeka, sebuah hak yang tidak dimiliki semua anak bangsa di era kolonial.
”Dengan proklamasi, kita tidak hanya merdeka secara politik, tapi juga merdeka membangun kecerdasan baru, membangun pribadi-pribadi baru, agar kita betul-betul berdaulat. Dan itu tidak bisa dilakukan tanpa penguasaan IPTEK,” paparnya.

Seiring dengan itu, UM terus berekspansi dengan menambah kuota sekitar seribu mahasiswa dan membuka tujuh program studi baru yang tersebar di Fakultas Teknik, Vokasi, dan Ilmu Sosial. Hal ini dilakukan untuk menjawab tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta industri.
Rektor juga menjabarkan visi besar UM yang tertuang dalam tema “Sehat, Bermartabat, dan Berdaulat”. Visi ini menuntun UM untuk terus bergerak dan berdampak nyata bagi bangsa dan dunia, selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada pilar kesehatan dan pendidikan berkualitas.
”Harapan kita, mahasiswa baru bisa mengembangkan dirinya menjadi pemikir-pemikir yang tetap kritis tanpa mengabaikan nilai-nilai moral, agama, maupun Pancasila,” tutupnya. [dan/aje]






