Surabaya (beritajatim.com) – UK Petra bersama Konsulat Jenderal AS di Surabaya menggelar seminar bertajuk ‘Artificial Intelligence and Disinformation’. Seminar itu untuk membahas tantangan dan peluang AI menjelang Pemilu 2024 mendatang.
Dian Wulandari, Kepala Perpustakaan UK Petra menjelaskan bahwa seminar ini untuk melihat peluang sekaligus tantangan yang disajikan oleh kemajuan terbaru dalam AI. “Misalnya seperti ChatGPT, Midjourney dan Stable Diffusion,” kata Dian, Kamis (27/7/2023).
Pemilu sendiri bakal dihelat pada 2024 mendatang. Namun suasana sudah mulai memanas. Sedangkan AI dinikai memiliki potensi untuk membuat pemberitaan yang bersifat disinformasi.
Baca Juga: Mahasiswi Magang Sambut 3 Pemain Timnas Amputasi U23 dengan Bunga di DPRD Jember
Menurut Liauw Toong Tjiek, Kepala ELTC (Excellence in Learning and Teaching Center) UK Petra, kondisi seperti ini bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melakukan black campaign.
“Seminar ini menjadi salah satu alat untuk memerangi disinformasi menjelang tahun pemilu 2024 yang sangat penting di Indonesia,” katanya.
Pada sesi pertama, Evanna Hu, Lecturer at NATO (North Atlantic Treaty Organization sebagai narasumber berbicara soal AI and Disinformation. Dirinya membahas global perspective and overview of AI and Disinformation lengkap dengan contohnya.
Baca Juga: Bupati Jember: Koperasi Harus Bergerak Lakukan Kerja Sama Antardaerah
Kemudian narasumber kedua, Cahya Suryani mengkontekstualisasikan misinformasi dan disinformasi di Indonesia, serta antisipasi penggunaan AI untuk disinformasi menjelang Pemilu. Termasuk perubahan trend disinformasi, aspek psikologisnya dan keterkaitannya dengan AI.
Ketiga, Joanne membahas terkait The Role of Media Monitoring in Combating Online Disinformation. Ia memberikan gambaran umum tentang media monitoring dan perannya dalam memerangi disinfomasi dilengkapi dengan demo penggunaan online tool yang bisa digunakan. [ipl/ian]






