Jombang (beritajatim.com) – Santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam (PPMH) Jatirejo Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang membuat inovasi yang cukup menarik. Mereka mengubah minyak goreng bekas atau jelantah menjadi sabu batangan dan sabun cair. Sabun tersebut tidak mengandung bahan kimia.
Jelantah tersebut tersebut didapatkan dari sedekah sampah dari para wali santri. Setelah terkumpul, mereka mengolah sampah memasak tersebut menjadi benda yang penuh pernah. Seperti yang mereka lakukan pada Jumat (20/10/2023) di depan ruangan kelas MA (Madrasah Aliyah) Al Hikam.
Tiga santri berseragam pramuka, Maharani Putri Utami, Amelia Nova, serta Eva Naila Nafisah, sibuk meletakkan peralatan di atas meja. Ada ember kecil berisi jelantah, kemudian gelas ukur berisi asam sitrat, natrium hidroksida, serta segelas minyak kelapa.
Jelantah kemudian dimasukkan dalam peralatan penjernih. Tentu saja, dalam waktu dua jam, jelantah tersebut berubah menjadi bening. Jelantah bening beserta bahan lain kemudian dimasukkan menjadi satu dalam ember. Oleh salah satu santri bahan-bahan tersebut diaduk menggunakan mesin mixer.
Beberapa saat kemudian bahan yang awalnya cair berubah menjadi kental. Jika tingkat kekentalan dirasa cukup, adonan tersebut dimasukkan ke dalam cetakan khusus. Ada yang berbentuk kotak, ada pula berbentuk oval.
BACA JUGA:
Hari Santri, 46 SD di Jombang Ikuti Lomba Kreasi ‘Nadhom Aqidatul Awam’
“Ini didiamkan selama dua hari. Yakni sampai memadat. Setelah itu kita angkat dari cetakan dan dibungkus dalam kemasan cetak. Selain sabun batang, kita juga memproduksi sabun cair,” kata Eva usai meracik bahan pembuatan sabun berbahan jelantah.
Eva mengatakan bahwa sabun tersebut lebih ramah lingkungan. Karena tidak menggunakan bahan kimia. Bahan yang digunakan juga daur ulang, yakni dari minyak goreng bekas. Sedangkan pewarnanya menggunakan bubuk kopi. “Kita juga mencampurinya dengan pewangi,” sambungnya.
Kepala MA Al Hikam Maftuhah Mustiqowati ikut memantau murid-muridnya saat pembuatan sabun tersebut. Apa yang dilakukan di sekolahnya tersebut merupakan bentuk adiwiyata. Lalu di MTs dan MA Al Hikam terdapat kegiatan sedekah sampah setiap Jumat.
Nah, selain sampah plastik, yang disedekahkan adalah jelantah. Akhirnya, pihak sekolah belajar ke UIN Malang. Tujuannya, belajar pengolahan jelantah menjadi sabun. Dari pelatihan tersebut, ilmu itu ditularkan ke santri Ponpes Mambaul Hikam.

“Dalam satu bulan, permintaan sabun tidak menentu. Sehingga produksi kita juga menyesuasikan. Dalam satu bulan kita bisa menghasilkan 300 batang sabun dan 100 botol sabun cair. Permintaan dari warga sekitar dan pemesanan melalui online,” ujar Ning Ika, panggilan akrab Maftuhah Mustiqowati.
Soal bahan baku, tidak menjadi kendala dalam pembuatan sabun. Karena selain ada program sedekah sampah, jelantah tersebut juga dibawa oleh wali santri ketika menjenguk anaknya yang sedang mondok.
Kendalanya, lanjut Ning Ika, hanya masalah alat. Selama ini pembuatan sabun jelantah tersebut dilakukan secara manual. “Kendala kita soal alat. Karena manual sehingga prosesnya lebih lama. Untuk sabun kita jual Rp 8 ribu per batang,” ujar Kepala MA Al Hikam yang juga pengasuh Ponpes Putri Mambaul Hikam Desa Jatirejo ini. [suf]






