Malang (beritajatim.com) – Politeknik Negeri Malang (Polinema) mengadakan expo penguatan inovasi yang memamerkan berbagai produk karya dosen dan mahasiswa. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian dies natalis Polinema ke-41. Expo penguatan produk inovasi ini dibuka oleh Direktorat Jenderal pendidikan Vokasi, Kiki Yuliati.
Direktur Polinema, Supriatna Adhisuwignjo, ST., MT., menjelaskan bahwa expo ini merupakan keinginan kampus untuk memfasilitasi dosen dan mahasiswa terkait dengan karya produk yang dihasilkan. Produk yang dipamerkan bisa dari hasil riset, skripsi, kegiatan pengabdian masyarakat dan sebagainya.
“Intinya adalah kita berharap dengan memfasilitasi itu karya dosen dan mahasiswa ini ini bisa ketemu dengan masyarakat yang membutuhkan. Masyarakat dalam artian bisa, kelompok masyarakat, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dunia industri, yang memang membutuhkan karya dari mahasiswa kita,” kata Direktur, Senin (22/5/2023).
Selain itu, dalam expo ini Polinema juga memfasilitasi beberapa industri mitra, UMKM mitra, desa mitra, beberapa pusat riset, dan peneliti yang memiliki produk yang sedang dalam proses pengembangan. Semua itu difasilitasi agar bisa ikut expo, ini termasuk dari jurusan yang ada di kampus Polinema.
“Kami berharap bisa mempertemukan antara pihak kampus dengan pihak industri dan UMKM yang harapannya ini menjadi tempat untuk kita bisa berkolaborasi dan bersinergi hingga ke depan. Ini menjadi salah satu wahana mendekatkan kampus dengan pihak industri IDUKA, ataukah dengan UMKM,” sambungnya.
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/polinema-siap-jadi-tuan-rumah-porseni-xiv-poltek/
Direktur memandang, usia 41 bagi suatu institusi bukan usia yang muda. Sudah banyak pengalaman dilalui, Polinema menjadi lembaga perguruan tinggi vokasi yang semakin dewasa. Hal itu menunjukkan kontribusi pembangunan bangsa dan negara.
“Untuk mendukung aspirasi kemitraan dunia industri dan UMKM, kami mengadakan expo yang memandang berbagai kemitraan. Kami terus berupaya melakukan kerjasama dan kemitraan dengan stakeholder, pemerintahan, lembaga pendidikan menengah, lembaga pendidikan tinggi, industri, dunia kerja, UMKM, dan kelompok masyarakat,” ujar Direktur.
Kerjasama tersebut, sambung Direktur, bisa dimanfaatkan sebagai win-win solution bagi Polinema dan pihak terkait lainnya. Expo tersebut juga sekaligus bentuk rasa syukur dan berbangga atas berbanyak hal yang kita capai.
“Tentunya kerja keras dan komitmen semua pihak, hal ini tidak bisa kita wujudkan. Terimakasih dan penghargaan setinggi-tinggi atas kontribusi dan kerjasamanya kepada semua pihak untuk kemajuan Polinema. Semoga masa depan Polinema lebih baik lagi,” ujar Direktur.
Expo ini tidak hanya memamerkan stand dari dosen, mahasiswa, dan kemitraan. Ada juga kegiatan talkshow, open campus, dan peluncuran pusat kajian pemberdayaan masyarakat dan ekonomi kreatif. Pusat kajian tersebut diharapkan berdampak bagi masyarakat Malang Raya.
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/2-mahasiswa-polinema-raih-juara-1-ajang-olimpiade-nasional/
“Kampus sudah seharusnya turut memajukan masyarakat di wilayah Malang Raya dan sekitarnya. Terakhir kami juga ada acara diseminasi hasil riset atau peneliti yang mewakili Polinema. Expo ini juga sebagai bentuk Polinema turut menyemarakkan bulan merdeka Belajar 2023,” pungkas Direktur saat sambutan pembukaan acara di Graha Polinema.
Salah satu stand yang menarik adalah transformers fault analysis. Alat ini merupakan prototipe aplikasi buatan mahasiswa Polinema yang didapuk mampu mendeteksi kesalahan travo.
“Transformers itu didiagnosis dari trafo melalui minyak trafo yang di mana minyak trafo itu diambil sampel laboratorium. Dari hasil tes laboratorium tersebut dimasukkan ke aplikasi yang sudah kita buat dan dia di aplikasi itu menampilkan kesalahan-kesalahan yang yang akan muncul di trafo,” ujar Muhammad Rafi, mahasiswa Polinema.

Alat itu nantinya akan dilaunching sehingga dapat digunakan oleh PLN yang memiliki power transformer 150 KV ke atas. Ia mengaku dari pengalaman membuat aplikasi ini bisa belajar tentang cara menganalisis kesalahan pada trafo.
Senada dengan itu, ada karya mahasiswa yang berkolaborasi dengan masyarakat kampung Sanan Malang. Ujung Tri Utami bersama timnya berhasil produk bernama Nouggy yang dipamerkan pada stand expo. Nouggy merupakan nougat milenial yang dibuat dari kulit ari kedelai.
“Masyarakat di Sanan kan punya masalah kulit ari kedelai yang menjadi sampah. Kulit arinya kadang dibuang ke sungai. Di situ kita ngelihat kondisi memprihatinkan jadi kita inovasikan,” ujar mahasiswa jurusan manajemen pemasaran, administrasi niaga tersebut.
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/rekrutmen-bersama-polinema-24-perusahaan-nasional-terlibat/
Produk yang ia buat saat ini sudah masuk tahap pengembangan dan sudah dipasarkan dengan sistem pre-order. Ia bersama tim bergabung dengan tenant inkubator bisnis Entrepreneurship Training Unit (ETU) Polinema.
“Produk kami juga sudah menjuarai di kompetisi bisnis nasional dan internasional. Produk kami juga sudah di HAKi-kan. Dari situ kita berhasil memberdayakan masyarakat yang hasilnya berdampak pada lingkungan,” jelas mahasiswa yang saat ini semester 6 itu. [dan/but]






