Surabaya (beritajatim.com) – Karya inovasi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bernama AISITS berhasil menjawab potensi kecelakaan pipa minyak bawah laut.
Bahkan, AISITS (Automatic Identification System Institut Teknologi Sepuluh Nopember) ini sudah diimplementasikan di sejumlah perusahaan migas di Indonesia untuk mencegah kecelakaan tersebut.
“Hal ini beranjak dari adanya insiden kebakaran pipa minyak bawah laut akibat jangkar kapal yang pernah terjadi,” kata Dhimas Widhi Handani, salah satu peneliti AISITS, Selasa (5/9/2023).
Dhimas menjelaskan, AISITS bekerja dengan cara memberikan data lokasi kapal dan pipa bawah laut. Lewat data itu, operator pusat akan lebih mudah memonitor kapal-kapal yang hendak melintasi pipa minyak bawah laut.
“Apabila ada kapal yang berhenti di atas pipa minyak, AISITS akan langsung memberikan peringatan dini,” jelasnya.
Kelebihan lain dari AISITS adalah mampu menekan biaya perawatan dan pemeliharaan pada perusahaan migas. Alat ini mampu memberikan kondisi terkini dari pipa minyak bawah laut.
BACA JUGA:
Tiga Mahasiswa ITS Buat Inovasi Jalan Berlapis Panel Surya untuk Kurangi Emisi Karbon
“Sehingga perusahaan migas dapat meminimalisir pengeluaran. Dengan AISITS, pengeluaran yang dibutuhkan tidak sampai 20 persen,” kata Dosen Departemen Teknik Sistem Perkapalan itu.
AISITS juga dilengkapi sejumlah fitur lain seperti penghitung jejak karbon hasil aktivitas tambang minyak, analisa forensik saat terjadi kecelakaan, dan pendeteksi wilayah laut area konservasi.
Sejak 2019, AISITS telah diimplementasikan pada Pertamina Refinery Unit (RU) V Balikpapan dan Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) di Lamongan Shorebase pada tahun 2023.
Dhimas berharap, hadirnya AISITS akan mampu mengurangi risiko kecelakaan kapal pada perusahaan migas. “Harapannya, keberlanjutan pasokan sumber daya migas di seluruh Indonesia akan semakin terjaga,” tuturnya. [ipl/suf]






