Surabaya (beritajatim.com) – Tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya merancang aplikasi Bandar Safety untuk mengatasi risiko seputar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi Tim Matching Fund (MF) Kedaireka ITS Surabaya dan Pelindo Terminal Petikemas (TPK). Inovasi berupa aplikasi integrasi ini diciptakan untuk membantu menganalisis risiko kecelakaan kerja dalam perusahaan.
“Kolaborasi ini menghasilkan aplikasi berbasis web sebagai layanan meningkatkan budaya keselamatan para stakeholder dan industri lainnya,” ujar Ketua Tim MF Kedaireka ITS x Pelindo TPK Dr Adithya Sudiarno, Selasa (26/12/2023).
Adith menjelaskan, Bandar Safety memiliki tiga fitur utama untuk mengendalikan potensi bahaya di lingkungan kerja, salah satunya ialah Safety Model Canvas (SMC).
Model pengukuran budaya keselamatan yang telah dikembangkan sejak 2018 tersebut dapat digunakan untuk memahami, menilai, mengevaluasi, dan memberikan saran perbaikan dari kondisi K3 pada suatu perusahaan.
Dalam SMC tersebut, ada 8 dimensi dengan 5 indikator asesmen pada setiap dimensi untuk mengukur level keselamatan suatu organisasi. Setelah dilakukan pengukuran, fitur ini akan memberikan rekomendasi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan level keselamatan.
“Jadi, SMC ini merupakan instrumen untuk mengukur kematangan budaya K3 di suatu perusahaan yang dilengkapi dengan database guna melakukan perbaikan,” jelasnya.
Selain itu, ada juga fitur bernama ErgoKu sebagai alat bantu ukur potensi bahaya ergonomi yang diadaptasi dari Standar Nasional Indonesia (SNI) 9011 Tahun 2021. Pada dasarnya, fitur ini terbagi menjadi dua jenis survei, yakni Gangguan Otot Rangka Akibat Kerja (Gotrak) dan Ergonomic Risk Factor (ERF).
Pada survei Gotrak, asesor berfokus pada potensi gangguan otot yang dapat terjadi pada pekerja saat berada di lapangan. Sedangkan, survei ERF lebih berfokus pada analisis risiko ergonomi yang terjadi di lingkungan kerja.
“Setelah menemukan adanya potensi bahaya, asesor akan menilai tingkat keparahan potensi bahaya guna mengatasi dan menghindari potensi tersebut terjadi,” ujarnya.
Fitur terakhir pada Bandar Safety ialah House of Risk for Safety, Health, Environment, etc (HORshe). Fitur ini menjadi salah satu metode alternatif bagi organisasi mengelola manajemen risiko K3.
Dengan berbasis spreadsheet, HORshe dirancang untuk memberikan mitigasi serta meminimalisir risiko dengan mengaplikasikan hazard control hierarchy dan model SHELL.
Selain telah terdigitalisasi, Adith menuturkan bahwa penggunaan HORshe akan memudahkan asesor dalam mengidentifikasi potensi bahaya. Hal ini karena proses identifikasi yang dilakukan berdasarkan proses bisnis.
“HORshe pun dapat menggabungkan atau mengaitkan beberapa solusi menjadi satu, sehingga satu solusi dapat menyelesaikan berbagai macam risiko,” ucapnya.
Ditambahkan oleh Web Developer dari Bandar Safety Adi Wira Pratama, bahwa ketiga fitur tersebut dapat diakses secara gratis pada situs bandarsafety.com. Dalam situsnya, terdapat pula tutorial mengenai penggunaan fitur pada Bandar Safety dan e-learning seputar K3.
“Bandar Safety sendiri ditujukan untuk seluruh organisasi atau perusahaan yang membutuhkan keselamatan dalam kerja,” papar mahasiswa DTSI ITS angkatan 2021 tersebut. [ipl/beq]






