Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Untag Surabaya Chelvin Afinda Sugara merancang kawasan wisata bahari Pantai Gading di Bandar Lampung yang antisipasif untuk meminimalisir dampak tsunami.
Pada penelitiannya, Chelvin mengusung konsep untuk melahirkan keseimbangan ekosistem bumi. “Saya mengusung konsep ‘hidup berdampingan dengan alam’ demi menciptakan keselarasan bumi,” ujar Chelvin, ditulis Kamis (17/8/2023).
Ada tiga aspek keilmuan yang diterapkan pada penelitiannya. Pertama, terdapat break water sebagai penyelamatan pertama untuk memecah gelombang air laut sebelum menyentuh tanggul.
Baca Juga: Sebanyak 20 Penyelam Bentangkan Bendera Merah Putih di Dasar Laut Watu Dodol Banyuwangi
Kedua, pemasangan tanggul bertingkat setingggi dua meter. Tiap tingkatnya berukuran satu meter, agar tak terlihat menyeramkan pengunjung. Kemudian dipadukan dengan landscaping di area tanggul.
“Jika air laut masih bisa naik di ketinggian dua meter tersebut, ada implemetasi ketiga yaitu bangunan shelter tsunami atau bangunan tinggi penyelamatan ketika terjadi bencana tsunami,” jelasnya.
Dengan tiga konsep ini, Chelvin berharap inovasi desainnya ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Lampung, dalam menghadapi potensi bencana alam tsunami.
Baca Juga: 17 Agustus 2023 Jadi Upacara Kemerdekaan Terakhir Wali Kota Sutiaji, Ini Pesannya
“Kami juga berupaya menciptakan bangunan dengan memperhatikan karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakat, sehingga dapat mampu memberikan perlindungan dan keamanan optimal saat bencana melanda,” terangnya.
Diketahui, kondisi geografis dan topografis Pulau Sumatera rentan terhadap berbagai jenis bencana alam. Provinsi Lampung sendiri, memiliki lebih dari 60 persen daerah pesisir, sehingga itu sangat berpotensi terjadi tsunami.
Di sisi lain, Chelvin juga menyampaikan kepada mahasiswa Prodi Arsitektur agar lebih peka terhadap dampak desain pada lingkungan sekitar. Menurutnya, sebagai calon arsitek muda harus memperhatikan itu.
Baca Juga: Keluarga di Jombang Panik, Ular 2 Meter Sembunyi di Kolong Lemari
“Kebanyakan mahasiswa menyusun skripsi arsitektur hanya berdasarkan topik yang disukai dan menarik. Banyak yang masih belum memperhatikan apa saja dampak buruk terhadap lingkungan di sekitarnya,” tandasnya. [ipl/ian]






