Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar ITS Prof Katherin Indriawati mengembangkan strategi peningkatan availability sistem kontrol modern dalam menjalankan pekerjaan tanpa kegagalan.
Ia mengatakan, pada perkembangan sistem kontrol modern, otomasi mengakibatkan berkurangnya keterlibatan manusia dalam pekerjaan. Sehingga, hal itu menyebabkan gangguan dan kendala teknis.
“Banyak risiko yang akan terjadi jika gangguan pekerjaan tidak diminimalisir,” ungkap Katherin dalam orasi ilmiahnya bertajuk Peningkatan Availability pada Sistem Kontrol Modern, ditulis Sabtu (23/9/2023).
Untuk meminimalisir gangguan itu, kata dia, sistem kontrol modern memerlukan availability yang tinggi. Dijelaskannya, availability merupakan peluang keberhasilan pekerjaan dalam suatu sistem.
Meningkatnya peluang tersebut dapat diukur melalui sejumlah indikator antara lain redundansi komponen, diagnostik, hot swapping, perubahan online, dan virtualisasi.
BACA JUGA:
Guru Besar ITS Kaji Metode untuk Tingkatkan Akurasi Pemodelan Regresi
Kelima poin indikator itu dioptimalkan Katherin dengan tiga strategi yang dikembangkannya. Katherin mengusung strategi sensorless control, Fault Tolerant Control (FTC), serta deteksi dan diagnosis kesalahan.
“Perlu strategi kontrol yang lebih kompleks untuk menjamin keberhasilan pekerjaan,” ujar profesor dari Departemen Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS) ITS tersebut.
Ia menyebut, sensorless control menggantikan keberadaan sensor yang biasa dipakai mengontrol suatu variabel proses. Strategi ini memerlukan biaya yang terjangkau dan dapat digunakan pada kondisi sulit. Poin indikator yang dicapai pada strategi ini adalah virtualisasi.
Strategi berikutnya FTC, yakni pengendali kestabilan sistem jika terjadi kesalahan pada komponen. Di sini, Katherin mengajukan struktur kontrol baru yang dapat menentukan jenis kesalahan, sehingga FTC dapat digunakan dalam sensorless control
Selanjutnya deteksi dan diagnosis kesalahan yang memanfaatkan sinyal arus. Menurutnya sinyal arus dapat menggantikan sinyal getaran dalam mendeteksi kesalahan sistem. Strategi ini dilakukan untuk mencapai poin redundansi analitik dan diagnostik.
BACA JUGA:
ITS Kukuhkan 6 Guru Besar untuk Tingkatkan Daya Saing Penelitian
Katherin mengaku butuh lima tahun untuk menghasilkan luaran berupa kebaruan ilmu mengenai sistem kontrol modern. Ia menjalani berbagai eksperimen, salah satunya yaitu sistem speed sensorless FTC motor servo DC guna menguji efektivitas ketiga strategi dalam mencapai poin peningkatan availability.
Ia berpendapat bahwa suatu sistem kontrol disebut gagal apabila tidak memiliki sistem untuk mengakomodasi kesalahan. Penelitian Katherin tidak hanya meningkatkan availability sistem kontrol modern, tetapi juga mendukung sektor industri secara berkelanjutan.
Peningkatan availability dapat membantu industri dalam efisiensi energi, minimalisasi limbah dan meraih keuntungan optimal. Di samping itu, ia berharap agar konsep keilmuan ini dapat berkembang ke bidang yang lebih luas seperti sosial masyarakat.
“Sistem kontrol modern menjadi teknologi yang menerapkan solusi berkelanjutan di industri dan masyarakat,” tandasnya. [ipl/beq]






