Jember (beritajatim.com) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengumpulkan sejumlah pegiat literasi lokal di auditorium Institut Teknologi dan Sains Mandala, Senin (11/12/2023).
“Kami fakir persoalan pegiat literasi. Sementara ini kita bergerak sendiri-sendiri. Pemerintah pusat sudah menahbiskan (gerakan literasi) sebagai gerakan sosial. Padahal gerakan sosial harus diawali dari munculnya kesadaran bersama. Kesadaran bersama akan memunculkan harapan bersama,” kata Kepala Dinas Perpusip Jember Achmad Imam Fauzi.
Dengan mengundang para pegiat literasi, Fauzi ingin mendengar keinginan, tujuan, dan kendala yang dihadapi gerakan literasi di Jember. Ia berharap bisa merumuskan semua masukan agar kebijakan literasi pemerintah daerah dalam jangka panjang tepat sasaran.”Jadi ada persoalan substansi dan sustainability (kesinambungan) yang kita lakukan,” katanya.
Fauzi siap memfasilitasi kegiatan diskusi atau pertemuan rutin pegiat literasi di Jember. “Yang paling efektif dalam diskusi adalah kesetaraan dalam gagasan dan pengetahuan, sehingga ketika pemerintah mengeksekusi, maka tepat sasaran,” katanya.
Setio Hadi, pegiat literasi asal Kecamatan Kencong, senang dengan ikhtiar yang dibangun Dispusip Jember. Ia mengusulkan segera dilakukan pendataan terhadap pegiat-pegiat literasi Jember.
Setio sepakat jika Pemerintah Kabupaten Jember mengalokasikan anggaran untuk gerakan sosial literasi. Namun ia mengingatkan pegiat literasi untuk tidak tergantung terhadap pemerintah. “Selama ini dari aspek pendanaan, 80 persen kita mandiri. Yang kita perlukan adalah formulasi dan petunjuk dari pembuat kebijakan,” katanya.
Selain itu, Setio berharap komunikasi antarpegiat literasi ditingkatkan. Ia setuju kebijakan literasi tidak bersifat komando dari atas. “Kalau top down, akan ada friksi. Ini problem akut,” katanya. [wir]






