Tuban (beritajatim.com) – Kabupaten Tuban, Jawa Timur kaya akan wisata alamnya, dikenal sebagai pesisir Pantai Utara (Pantura) yang sangat populer. Namun, siapa sangka Kabupaten Tuban juga memiliki wisata alam dengan perbukitan kapur yang tak kalah menarik.
Secara geografis, Kabupaten Tuban memiliki gunung atau perbukitan kapur hampir di sejumlah wilayah seperti di Kecamatan Semanding, Grabagan, Rengel, Tambakboyo, Jatirogo, dan lain-lain. Sehingga, seringkali dijuluki Tuban 1000 Goa.
Saking banyaknya perbukitan kapur, area Tambang juga semakin merajalela. Seperti halnya di Kecamatan Rengel yang terkenal dengan tambang batu kapur. Tapi, perbukitan kapur di Rengel masih menyisakan keindahan alamnya yang tak kalah asri.
Ketua Jejak Lestari Rengel Naufal Ilham mengungkapkan bahwa awal terbentuknya komunitas pecinta alam ini sering olahraga di kawasan perbukitan kapur di Desa/Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban. Kemudian, muncul ide bersama-sama mengajak masyarakat untuk menikmati Bukit Pencit atau Puncak Baswara serta mensosialisasikan aksi tolak tambang liar.
“Alhamdulilah meski baru berjalan 2 bulan ini, antusiasme masyarakat lumayan banyak,” ucap Naufal Ilham, Minggu (12/10/2025).
Bersama 13 tim lainnya yang diketuai oleh dirinya, Wakil Fyypo Alfa Wijaya beserta anggotanya Husna, Fillah, Nafa, Renita, Rakka, Cecep, Ubed, Rizal, Galih, Rudi, Lubab, Ardi, Alenta dan Hafidz Ridho ini kompak setiap hari Sabtu dan Minggu buka jasa pendakian ke Puncak Baswara dengan tarif Rp 15 ribu mendapatkan air minum, foto, video, serta aksi penanaman pohon dan perawatan alam.
“Banyak pesertanya, kemarin yang paling jauh dari Banyuwangi dan lainnya ada dari Kabupaten Tuban, Lamongan dan Bojonegoro,” terang Ilham sapanya.
Saat Beritajatim.com mencoba menelusuri bersama Jejak Lestari Rengel para pendaki disarankan memakai sepatu gunung karena medan cukup terjal dengan bebatuan kapur, serta membawa trekking pole atau tongkat. Membawa logistik yang cukup seperti air minum dan snack ringan.
“Dulu disini ada satu batu unik yang berlubang-lubang menyerupai dakon, tapi kini sudah tinggal kenangan, mangkanya dinamakan Oro-Oro Dakon,” jelas Ilham.
Setelah pos 1 menuju ke Pos 2 Watu Tunggal, disini pendaki sudah berada diatas bukit dengan pemandangan hutan hijau yang masih asri, serta spot foto Watu Tunggal yang artinya ada satu batu tunggal yang berdiri kokoh. Lanjut, menuju ke Pos 3 Watu Panggung.
Dari Watu Panggung ini kita menyeberangi jalan raya arah Grabagan-Rengel untuk menuju Puncak Baswara. Namun, sebelum itu pendaki harus melewati “Tanjakan Asu”. Dari sini, pendaki dilarang menyerah, dengan kondisi bebatuan yang cukup terjal. Tapi saat menengok kebelakang, pemandangan cukup terbayarkan.
“Jadi kenapa namanya Tanjakan Asu, di bawah bukit ada sebuah gubuk yang terdapat hewan anjing, kalau orang Jawa menyebutnya asu, sehingga kita saat menaiki tanjakan ini akan mendengar suara guk-guk,” imbuhnya.
Setelah melewati Tanjakan ini pendaki berhasil mencapai Puncak Baswara dengan ketinggian 390 Meter Diatas Permukaan Laut (MDPL). Meski terlihat pendek, para pendaki tidak boleh meremehkan perbukitan kapur ini dan harus safety demi meningkatkan keamanan.
“Kami juga bekerjasama dengan Karang Taruna Desa setempat, apabila Pendaki merasa kelelahan bisa naik ojek dengan tarif Rp 10 ribu saja sampai Basecamp,” pungkasnya. [dya/but]








