Tuban (beritajatim.com) – ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Yayasan ELSAL menggelar Sosialisasi Keamanan dan Keselamatan Jalur Pipa di Kabupaten Tuban, guna memastikan keamanan dan keselamatan jalur pipa distribusi minyak mentah Lapangan Banyu Urip sepanjang 72 kilometer yang menjadi fokus koordinasi lintas sektor di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Adapun forum tersebut dihadiri oleh perwakilan dinas terkait, badan usaha milik daerah, jajaran kecamatan, Perhutani, PLN, hingga perwakilan petani penggarap lahan.
Direktur ELSAL Indonesia, Imam Muqroni mengatakan bahwa tujuan kegiatan ini untuk menyelaraskan protokol keselamatan yang dilewati jalur pipa yang menjadi produktivitas pertanian warga. Serta, memperkuat kerjasama dan dukungan masyarakat terhadap operasional jalur pipa.
“Sosialisasi ini sebagai program petani berkelanjutan yang aman di tahun 2026, ada beberapa kegiatan yang sudah terlaksana diantaranya ada kas tani, balai rumah produksi, pengolahan pupuk 75 persen organik, serta mengedukasi keamanan-keamanan di jalur pipa,” ungkap Imam Muqroni. Rabu (01/07/2026).
Lanjut, ELSAL Indonesia sebagai mitra EMCL telah menyiapkan sejumlah program taktis bagi petani jalur pipa antara lain, edukasi keselamatan jalur pipa secara berkala bagi kelompok tani, pelatihan pembuatan pestisida nabati bersama BUM Desa dan Gapoktan Desa Kepohagung, dan pembangunan balai produksi pupuk organik (bokashi) sebagai pusat pembelajaran pertanian ramah lingkungan.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP2P) Kabupaten Tuban, Ulfa Mei Sayekti, menegaskan pentingnya kesamaan pandang dalam mengelola lahan di sekitar jalur pipa. Sehingga, kolaborasi seperti ini menjadi langkah penting untuk menyamakan pemahaman seluruh pemangku kepentingan.
“Kami mengapresiasi upaya EMCL yang tidak hanya memperhatikan aspek keamanan operasi, tetapi juga mendukung peningkatan kapasitas petani melalui program pertanian berkelanjutan,” ujar Ulfa sapanya saat membuka acara.
Dukungan teknis pengamanan objek vital nasional ini juga dipaparkan langsung oleh perwakilan EMCL, Rifqi Romadhon bahwa keselamatan operasi hulu migas sangat bergantung pada pengawasan partisipatif dari para pemangku kepentingan di tingkat tapak.
“Pemahaman mengenai batas kedalaman galian dan larangan mendirikan bangunan di atas jalur pipa hulu migas mutlak diperlukan untuk mencegah insiden fatal yang dapat mengganggu distribusi energi nasional,” jelas Rifqi Romadhon.
Menurutnya, komunikasi dan koordinasi yang baik menjadi kunci agar setiap aktivitas di sekitar jalur pipa dapat berlangsung dengan aman. “Sehingga harapannya program pertanian berkelanjutan bagi petani di sekitar jalur pipa selain meningkatkan ekonomi petani juga menekankan pemanfaatan lahan secara aman,” tutup Rifqi Romadhon. [dya/aje]






