Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya mengusulkan pemberian sanksi ke Persatuan Bola Basket (Perbasi) Jawa Timur bagi SMAN 9 Surabaya bertanding tanpa suporter.
Hal itu, imbas kericuhan SMAN 5 melawan SMAN 9 saat pertandingan Kejuaraan Bola Basket bertajuk Piala Wali Kota Surabaya pada Senin (20/2/2023).
Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Wiwiek Widayati mengatakan saat ini pihaknya telah mengusulkan kepada pengurus Perbasi Jatim untuk mengambil sikap terkait dengan pelanggaran yang telah dilakukan oleh tim basket putra SMAN 9.
[berita-terkait number=”3″ tag=”atlet-surabaya”]
Namun, dia menyebut bentuk sanksi yang dikenakan itu menjadi ranah dari Perbasi Pemprov Jatim.
“Berikutnya adalah ini kita menggunakan pertandingan dengan sistem gugur. Jadi kalau kemarin tim basket putra SMAN 9 sudah kalau berarti sudah ndak main lagi, yang putra. Sementara yang putri masih main tapi tanpa suporter,” kata Wiwiek, Rabu (22/2/2023).
Sementara itu, SMAN 5 tidak mendapat sanksi karena tidak melakukan terhadap lawan terlebih dahulu.
Diberitakan sebelumnya, Kejuaraan bola basket bertajuk Piala Wali Kota Surabaya tingkat pelajar SMA/SMK Se-Surabaya Raya berlangsung ricuh usai dibuka oleh Eri Cahyadi di Gelora Pancasila Surabaya, Senin (20/2/2023).
Kericuhan diketahui setelah beredar potongan vidio kericuhan di beberapa WhatsApp Group (WAG).
Dalam vidio tersebut nampak tim dengan jersey putih berselisih dengan tim jersey kuning di dalam lapangan.
Lalu, ada pemain menggunakan jersey putih berlari dan menampar pemain jersey kuning dengan keras.
BACA JUGA: Kejuaraan Basket SMA Piala Wali Kota Surabaya Ricuh
Akibat aksi pemain jersey putih tersebut, suporter memakai kaos hijau masuk ke lapangan berusaha mendekati dan memukul pemain jersey putih tersebut.
Petugas pun langsung mengamankan pemain jersey putih tersebut yang sebelumnya melakukan provokasi agar tidak jadi sasaran amukan suporter.
Kejadian itu berlangsung beberapa menit, setelah semua ditenangkan, suporter kembali duduk di tribun.
Kabid Olahraga Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya Trio Wahyu Bowo membenar kejadian tersebut. Trio menjelaskan, antar atlet saat itu terjadi kesalahpahaman mengenai pelanggaran dalam pertandingan.
Namun, ia memaknainya sebagai hal yang wajar karena yang ikut dalam turnamen tersebut adalah pelajar.
“Ada pelanggaran sedikit, mungkin ada atlet, biasa lah anak muda kan ada salah paham,” ujar Trio, Selasa (21/2/2023). (ted)






