Mojokerto (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan Tuberkulosis (TB). Upaya tersebut dilakukan melalui pelaksanaan Kick Off Skrining Sistematis Tuberkulosis Serentak dalam Rangka Percepatan Eliminasi Tuberkulosis di Kota Mojokerto di Puskesmas Kedundung.
Kegiatan tersebut menjadi langkah awal pemanfaatan teknologi portable X-ray untuk memperluas jangkauan deteksi dini TB hingga tingkat kelurahan. Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari menegaskan bahwa percepatan eliminasi TB di Kota Mojokerto harus dapat dicapai lebih cepat dibanding target nasional yang ditetapkan pada tahun 2030.
“Wilayah Kota Mojokerto relatif tidak terlalu luas, hanya seperti satu kecamatan di wilayah kabupaten. Sehingga perumusan yang tepat, intervensi, pemantauan, dan pengawasan dapat dilakukan secara lebih efektif dan menyeluruh,” ungkapnya, Selasa (2/6/2026).
Perempuan yang akrab disapa Ning Ita tersebut menjelaskan bahwa tantangan pengendalian TB di Kota Mojokerto cukup besar mengingat tingginya kepadatan penduduk. Selain itu, Kota Mojokerto juga merupakan pusat jasa dan perdagangan yang memiliki mobilitas masyarakat sangat dinamis.
“Kondisi ini memungkinkan penularan TB terjadi lebih cepat apabila tidak dilakukan deteksi dan penanganan secara dini. Karena itu, langkah pencegahan harus dilakukan secara masif dan sistematis,” jelasnya.
Pada kegiatan kick off tersebut, sebanyak 65 peserta mengikuti pemeriksaan dan skrining kesehatan. Ke depan, Pemkot Mojokerto akan memprioritaskan skrining bagi kelompok masyarakat berisiko tinggi, seperti lanjut usia (lansia), penyandang komorbid, masyarakat dengan kondisi malnutrisi, serta balita stunting.
Ning Ita juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung upaya eliminasi TB dengan meningkatkan kesadaran terhadap gejala penyakit, menerapkan pola hidup sehat, serta tidak ragu memeriksakan diri apabila mengalami keluhan yang mengarah pada TB. Pelaksanaan skrining TB serentak ini mendapat respons positif dari masyarakat.
Salah satu peserta, Siti Rochayah mengaku senang dapat mengikuti pemeriksaan tersebut. “Walaupun saya merasa sehat, dengan adanya skrining ini saya bisa mengetahui apakah menderita TB atau tidak. Jika ternyata terdeteksi TB, pengobatan bisa segera dilakukan sehingga tidak semakin parah dan tidak menular kepada orang lain,” tuturnya.
Menurut Siti, program skrining yang dilaksanakan Pemkot Mojokerto sangat membantu masyarakat untuk mengetahui kondisi kesehatan sejak dini. Ia menilai layanan pemeriksaan yang semakin dekat dengan masyarakat akan mendorong lebih banyak warga melakukan deteksi dini dan memperoleh penanganan yang tepat apabila ditemukan gejala TB.
Melalui skrining sistematis yang didukung teknologi portable X-ray, Pemkot Mojokerto berharap semakin banyak kasus TB dapat ditemukan sejak dini sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan efektif. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk mewujudkan Kota Mojokerto yang sehat dan bebas tuberkulosis pada tahun 2028. [tin/aje]






