Pasuruan (beritajatim.com) – Pemkab Pasuruan gencar mengumandangkan Kabupaten Pasuruan menjadi wisata religi yang bersih dan nyaman. Langkah ini merupakan bentuk kehadiran negara dalam mendengarkan langsung aspirasi pelaku usaha kecil demi keberlangsungan ikon wisata di Pandaan.
Sejumlah keluhan mulai dari minimnya penerangan jalan, kesemrawutan parkir, hingga keberadaan pedagang liar menjadi catatan utama bagi tiga dinas terkait. Pemkab berkomitmen bahwa setiap kebijakan penataan yang akan diambil tidak akan merugikan pihak pedagang yang sudah tertib.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pasuruan, Taufiqul Ghony, mengapresiasi kejujuran para pedagang yang bahkan menanyakan kejelasan soal pembayaran retribusi daerah. “Ini bukti bahwa ada kesadaran tentang kewajibannya, meski aturan baru terkait penarikan tersebut memang sedang diproses,” ungkap Ghony.
Pihak pemerintah daerah menyadari bahwa tanpa masukan dari pedagang, penataan pasar yang menjadi kebanggaan warga Pasuruan ini tidak akan berjalan maksimal. Dialog terbuka ini sengaja digelar agar tercipta rasa saling memiliki antara pengelola pasar dengan para pedagang kaki lima.
Selain masalah administratif, keluhan mengenai fasilitas fisik seperti lahan parkir yang sering meluap saat akhir pekan menjadi prioritas yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Koordinasi lintas sektor terus diperkuat agar kenyamanan wisatawan yang datang ke Masjid Cheng Hoo tetap terjaga dengan baik.
Kadishub Pasuruan, Digdo Sutjahjo, berjanji akan memberikan respons cepat terhadap setiap kendala teknis yang dilaporkan oleh para pedagang di lokasi. “Insyallah kami akan sigap memperbaikinya jika ada laporan lampu mati atau kendala parkir melalui kanal yang tersedia,” tegas Digdo.
Keterlibatan Satpol PP dalam rencana penataan ini juga dimaksudkan untuk memberikan perlindungan bagi pedagang resmi dari gangguan pedagang ilegal. Dengan kondisi pasar yang tertib dan aman, diharapkan daya tarik kunjungan wisata akan meningkat secara signifikan dibandingkan sebelumnya.
Melalui pendekatan humanis ini, Pemkab Pasuruan optimis kemajuan ekonomi kerakyatan di sektor wisata religi dapat terwujud lebih cepat. Harmonisasi antara pemerintah dan pedagang menjadi kunci utama agar produk UKM lokal semakin diminati oleh wisatawan yang berkunjung. [ada/aje]






