Madiun (beritajatim.com) – Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro Kabupaten Madiun bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), membongkar sejumlah bilik cinta di Pasar Muneng, Kecamatan Pilangkenceng, Jumat (17/3/2023). Bilik non permanen itu dibakar oleh petugas untuk mencegah terjadinya prostitusi terselubung.
Hal itu merupakan salah satu tindak lanjut paska-razia operasi Penyakit Masyarakat (Pekat), yang menjaring 16 pekerja seks komersial (PSK), Kamis (16/3/2023) dini hari.
Kabid Pengelolaan Pasar Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro Kabupaten Madiun Raswiyanto menuturkan, lapak yang ditertibkan ini tidak berizin dan disalahgunakan.
Sebelum itu, Raswiyanto menemui para pemilik lapak. Lalu mereka memberikan pernyataan agar tidak mengulangi perbuatan serupa kembali. Selain Satpol PP, penertiban juga melibatkan jajaran forkopimca setempat.
Baca Juga:
Wali Kota Madiun: Warga Jangan Sampai Mengeluhkan Bahan Pokok
“Jumlahnya terdiri dari 20 lapak yang dibongkar dan keberadaannya baru saja dibangun. Sebelumnya tidak ada sama sekali. Kalau digunakan sebagai kegiatan perekonomian tidak masalah. Tapi kalau disalahgunakan, maka ditindak tegas,” ungkapnya.
Raswiyanto menjelaskan, sebenarnya lapak-lapak itu adalah warung atau kios di dalam pasar, saat beraktivitas pagi maupun siang hari. Namun, saat malam hari, disalahgunakan.
“Terkait pemantauan, kami ada kepala pasar yang bertanggung jawab penuh terhadap keberadaan kegiatan di pasar. Kami meminta kepada kepala pasar dan anggota berperan aktif, menegur keberadaan kios yang tidak berizin, maupun ditindak tegas karena telah menyalahi prosedural,” imbuhnya.
Baca Juga:
Inda Raya: AIMI Madiun Raya Berperan Cegah Stunting
Raswiyanto mengimbau masyarakat agar tidak mendirikan bangunan yang menyalahi prosedur. Bahkan jangan sampai disalahgunakan sebagaimana mestinya.
Sementara salah satu pemilik kios yang ikut dibongkar Ratmi, hanya bisa pasrah terkait upaya dari Pemkab Madiun tersebut.
“Saya asli Madiun sudah 25 tahun buka usaha. Kalau soal lokalisasi, sempat ditutup, tahunya beraktivitas lagi sejak 6 bulan. Rencana mau pindah ke pinggir jalan. Kurang tahu kalau praktek lokalisasi itu. Yang ketangkap luar kota semua, ada dari Kediri, jauh jauh semua,” katanya. [fiq/beq]






