Bondowoso (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Jawa Timur mulai membentuk cluster pertanian cabai guna menjaga pasokan sekaligus meningkatkan kualitas hasil panen petani. Langkah ini diambil sebagai strategi menghadapi fluktuasi harga cabai yang kerap terjadi, terutama setelah beberapa pekan terakhir harga komoditas tersebut mengalami lonjakan signifikan.
Cluster pertanian cabai ini dirancang untuk memusatkan sumber daya dan kegiatan budidaya cabai di wilayah Lumajang. Tahap pembentukannya melibatkan kelompok tani (Poktan) yang bertugas menjalankan proses budidaya secara terintegrasi, mulai dari pengolahan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen, hingga pasca panen.
Program cluster pertanian sudah diterapkan di lima kecamatan, meliputi Sumbersuko, Pasrujambe, Senduro, Lumajang, dan Kunir, dengan fokus pada varietas cabai rawit dan cabai merah besar.
Salah satu kelompok tani yang telah merasakan manfaatnya adalah Poktan Awan Gono di Desa Jatigono, Kecamatan Kunir.
“Cluster pertanian ini sudah membuat kami bisa lebih menambah pengalaman dan kualitas hasil panen juga meningkat. Ini harga cabai di pasar juga jadi lebih stabil,” terang Ketua Poktan Awan Gono, Sulkhan Maarif, Selasa (14/10/2025).
Kabid Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang, Hendra Suwandaru, menjelaskan bahwa program cluster pertanian membantu mempermudah pengawasan terhadap kualitas cabai dan penanganan hama secara terpadu. Menurutnya, salah satu penyebab utama fluktuasi harga cabai adalah stok menipis serta cuaca tak menentu yang mempercepat pembusukan cabai di lapangan.
Selain faktor cuaca, serangan hama seperti petek, antraknosa, dan layu fusarium juga menjadi tantangan bagi petani. “Jadi, dengan adanya cluster, produksi cabai lebih terkontrol dan harga di pasar tidak mudah naik tajam. Petani juga bisa berbagi praktik terbaik untuk hasil panen yang maksimal,” ungkap Hendra. [has/beq]






