Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, bakal kesulitan mematenkan rawon pecel sebagai hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Namun, rawon pecel tetap memiliki prospek sebagai makanan khas Jember.
“Kuliner tidak bisa dipatenkan. Kuliner ini kan hasil karya multikultural. Rawon pecel ini kan dua entitas berbeda. Rawon ini siapa yang berhak mengklaim tempat asalnya, begitu pula pecel, siapa yang berhak mengklaim tempat asal pecel,” kata Aunurrahman Wibisono, pengamat kuliner dan penulis buku ‘Selama Ada Sambal, Hidup Akan Baik-Baik Saja’, Rabu (23/8/2023).
Nuran, sapaan akrab, mencontohkan gagalnya upaya Pemerintah Sumatera Selatan untuk mematenkan empek-empek. Hak paten baru bisa berikan jika ada penemuan teknologi yang mengandung langkah inventif, baru, dan dapat diterapkan dalam sebuah industri.
Namun bukan berarti kemudian rawon pecel tidak bisa dikampanyekan sebagai makanan khas Jember. “Kalau dikemas dengan promosi yang baik, kupikir pecel rawon, apalagi ditambah sambal petis, itu bisa jadi bahan ‘jualan’ sebagai makanan khas Jember.,” kata alumnus Universitas Jember ini.

Nuran menyebut rawon pecel berpotensi membuat orang penasaran, terutama pecinta kuliner. “Walau tentu tidak menutup kemungkinan akan ada orang-orang yang mengira itu aneh,” jelas penulis sejumlah buku ini.
Nuran menyadari posisi Jember sebagai daerah pandalungan yang menjadi titik pertemuan sejumlah kebudayaan, terutama Jawa dan Madura. “Sejak awal Jember adalah tempat persilangan budaya, sehingga kalau ngomong pecel di Madiun ada, di Surabaya ada. Kalau ngomong rawon, di Surabaya juga ada,” katanya.
“Kalau mau sesuatu yang baru, ya harus benar-benar bikin sesuatu yang baru, seperti suwar-suwir. Itu kan benar-benar khas Jember yang tidak ada di tempat lain,” kata Nuran.
Sebelumnya diberitakan, Bupati Hendy Siswanto mendeklarasikan eawon pecel sebagai makanan khas Jemberm saat menutup acara Pekan QRIS oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Jember, di alun-alun Kabupaten Jember, Minggu (20/8/2023) malam. “Ini adalah makanan tradisional yang tidak asing lagi buat kita,” katanya.
“Jangan keliru pecel rawon, tapi rawon pecel. Rawon toppingnya pecel. Kalau rawonnya panas, pecelnya tidak terlalu panas tidak apa-apa. Ini jadi makanan khas Jember yang harus kita dorong bersama-sama,” kata Hendy.
Menurut Hendy, rawon pecel akan sukses dikenal sebagai makanan khas Jember jika masyarakat mau menghargai, menikmati, dan terus berinovasi kuliner. “Saya berharap yang hadir di sini masak dan makan rawon pecel di rumah masing-masing. Kalau tidak ada di rumahnya, beli di tetangga masing-masing,” katanya.
Chef Steby Rafael saat menggelar kelas memasak rawon pecel di alun-alun Jember bahkan menambahkan petis udang sebagai bumbu. “Rawon yang asli harus lengkap bumbunya dan masaknya harus benar. Petis adalah bahan makanan khas Jawa Timur yang banyak mengandung glutamat alami atau penyedap alami,” katanya.
“Jadi saat ada petis di dalamnya, kita mendapatkan rasa gurih atau umami yang tidak bisa diwakilkan kaldu-kaldu bumbu. Kalau umami, cita rasa terasa sampai pangkal lidah. Itu yang membuat rawon, walau terkesan sederhana, cita rasanya harus bulat dalam mulut,” kata Rafael. [wir]






