Jember (beritajatim.com) – Pengurangan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) tak hanya tergantung dari masyarakat, namun juga pemerintah. Masalah infrastruktur jalan menjadi salah satu kunci penghematan BBM.
Ciplis Gema Qoriah, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyarankan pemerintah untuk segera memperbaiki infastruktur jalan darat yang rusak secara berkala, baik jalan nasional, provinsi, maupun kabupaten dan kota.
“Semakin tidak bagus jalan, semakin banyak energi yang dikeluarkan, dan itu berbiaya. Perlu dibangun jalan tol dan kanal yang berdampak positif terhhadap pengurangan kebutuhan BBM dan pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Ciplis, Selasa (31/3/2026).
Selain itu, pemerintah disarankan segera memperbaiki infastruktur moda laut dan udara untuk kebutuhan distribusi barang dan jasa. “Semakin tua usia kapal pengangkut akan menimbulkan kerusakan tinggi dan biaya tinggi pula untuk memperbaikinya,” kata perempuan berkacamata ini.
Dalam konteks penguatan transportasi ini, Ciplis menilai perlu adanya pembangunan pusat data transportasi dan distribusi secara integratif untuk memahami lalu lintas barang dan jasa antaradaerah dan antarpulau.
Ancaman bencana alam yang bisa merusak infrastruktur transportasi juga perlu mendapat perhatian. “Perlu ada peningkatan mitigasi risiko bencana alam yang berpotensi mengakibatkan kerusakan jalur transportsi dan distribusi antardaerah,” kata Ciplis.
Statistik Transportasi Darat 2021 dari Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, bahwa total panjang jalan di seluruh Indonesia pada 2021 mencapai 546.116 kilometer. Secara kumulatif, 174.298 kilometer atau 31,91 persen di antaranya mengalami kerusakan.
Sebagaimana dilansir katadata.co,id, kurang lebih 5,63 persen yang menjadi kewenangan pemerintah pusat rusak dan 2,56 persennya rusak berat. Sekitar 11,6 persen jalan provinsi mengalami kerusakan dan 11,7 persennya rusak berat. Sementara itu 17,65 persen yang berada di bawah kewenangan kabupaten dan kota rusak dan 17,82 persen rusak berat.
Sementara dilansir goodstats.id, kerusakan jalan terpanjang ada di provinsi Riau (1.073,5 kilometer), Papua Barat (991 kilometer), dan Papua (838.9 kilometer). Sementara itu Bangka Belitung dan Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan kerusakan jalan paling sedikit, yakni masing-masing 35,1 kilometer dan 90,1 kilometer. [wir/beq]






