Blitar (beritajatim.com) – Pembangunan Jembatan Trisula yang menghubungkan Kabupaten Blitar dengan Kabupaten Tulungagung membuat 10 rumah warga di Kecamatan Kademangan rusak. Dinding rumah warga banyak yang retak dan rawan roboh.
Menurut warga, retakan pada bangunan rumah ini terjadi akibat getaran penancapan paku bumi pondasi Jembatan Trisula. Getaran penancapan paku bumi jembatan yang memiliki panjang 122 meter dengan lebar 8 meter itu terasa seperti gempa bumi.
Sehingga bangunan rumah warga yang berada di sekitar jembatan Trisula banyak yang retak. Kondisi keretakan sendiri bervariatif mulai dari ukuran kecil hingga lebar dan rawan roboh.
Salah satu rumah warga yang mengalami kerusakan cukup parah adalah milik Murtaman. Rumah di Kelurahan Kademangan, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar itu mengalami retak di beberapa kamar serta dapur.
“Ya kayak yang njenengan lihat itu, bagian tembok mengalami retak-retak bahkan nggak bisa dibenahi ini,” katanya, Selasa (30/5/2023).
Baca Juga:
Waspada Jalur Malang-Blitar Macet, Ini Penyebabnya
Kerusakan bangun rumah milik Murtaman sendiri terbilang cukup parah. Bangunan rumah yang tidak dilengkapi dengan pondasi besi, membuat retakan di rumah Murtaman cukup lebar dan rawan roboh.
Murtaman dan keluarga pun tidak berani menempati kamar tidur yang mengalami retakan cukup parah tersebut.
“Ini kamar anak saya jadi setelah retak ini tidak bisa ditempati kembali, anak saya kadang tidur di ruang tengah juga di depan,” tegasnya.
Menurut Murtaman, kondisi kerusakan rumahnya sudah tidak bisa dibenahi lagi dan harus dibangun kembali.
“Kalau melihat kondisinya ini sudah tidak bisa dibenahi dan harus dibangun kembali karena pondasinya tidak ada besinya,” tandasnya.
Warga lain yang rumahnya rusak akibat pembangunan jembatan Blitar-Tulungagung adalah Agus. Rumah Agus yang bersebelahan dengan Murtaman kondisinya juga sama rusaknya.
Bagian tembok dapur milik Agus juga mengalami retak-retak. Keretakan yang terjadi ini berukuran bervariatif mulai yang kecil hingga besar.
“Ini bisa dilihat sendiri kondisinya bagaimana nanti saya dituduh bohong tidak lihat sendiri,” ujar Agus saat memperlihatkan kondisi rumahnya yang rusak.
Baca Juga:
Viral, Aksi Pencurian Satu Karung Gabah di Blitar Terekam CCTV
Menurut Agus total ada sekitar 10 rumah warga yang rusak akibat getaran pembangunan jembatan Kademangan Kabupaten Blitar. Agus menjelaskan bahwa sebagian rumah warga mengalami kerusakan yang cukup parah.
Selain kerasnya getaran kerusakan juga diakibatkan oleh bangunan rumah yang tidak dilengkapi dengan rangka besi.
“Kalau 10 lebih bangunan rumah warga yang rusak kondisinya juga bervariatif,” jelasnya.
Sementara itu, Lurah Kademangan Suwito menjelaskan proyek pembangunan Jembatan Trisula kini dihentikan sementara. Penghentian ini dilakukan lantaran adanya protes dari masyarakat sekitar terkait dampak pembangunan jembatan.
Kebanyakan, rumah yang terkena dampak itu berjarak antara 15 meter sampai 50 meter atau berada di barat jembatan. Tepatnya sampai di pos lalu lintas di pertigaan lampu merah Kademangan.
“Kebanyakan, rumah yang terkena dampak itu berjarak antara 15 meter sampai 50 meter atau berada di Barat jembatan. Tepatnya sampai di pos lalu lintas yang ada di pertigaan lampu merah Kademangan,” katanya.
Karena tidak ada keputusan itu sehingga warga yang merasa dirugikan atas kerusakan rumahnya itu bersikeras agar proyek jembatan di atas Sungai Brantas itu dihentikan.
“Warga yang terkena dampak seperti kami ini sudah terlanjur agar proyek itu dihentikan dulu. Sebab, kami khawatir dengan kondisi bangunan rumah kami. Memang, getarannya yang timbulkan dari pemasangan paku bumi terasa kalau kita saat dalam rumah. Rumah kami seperti kena lindu, bergetar seperti mau rontok bangunannya,” tandasnya. [owi/beq]






