Surabaya (beritajatim.com) – Dampak demonstrasi yang berlangsung di sekitar Gedung Negara Grahadi, Surabaya, semakin dirasakan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Salah satunya dialami oleh Diah Arfianti, pemilik usaha kuliner Diah Cookies. Ia mengaku omset penjualannya turun drastis dalam tiga hari terakhir, terutama pada akhir pekan, 30–31 Agustus 2025.
“Paling parah, omset saya turun sampai 70 persen per hari. Biasanya kami bisa siaran langsung di TikTok dan Instagram berjam-jam, tapi Sabtu-Minggu kemarin hanya sempat 30 menit, 15 menit, bahkan akhirnya tidak bisa live sama sekali,” keluhnya.
Diah menuturkan, selama ini strategi penjualan melalui live streaming di media sosial cukup efektif menarik pembeli baru. Namun, terganggunya akses siaran langsung saat demonstrasi membuat jangkauan pemasarannya menyempit.
“Kalau cuma mengandalkan status WhatsApp atau Instagram Story, penontonnya sedikit sekali. Mungkin tenggelam sama konten lain yang sedang viral,” keluhnya.
Dampak paling berat justru dialami pada lini produksi roti. Berbeda dengan cookies yang tahan lama, roti hanya bisa bertahan dua hari. Kondisi itu memaksa dirinya menggelar berbagai promo, termasuk flash sale hingga program beli 5 dapat 7. Sayangnya, ratusan roti tetap menumpuk di rak penjualan.
Selain promosi yang terhambat, Diah juga menghadapi kendala ongkos kirim. Ia menyebut beberapa pelanggan sempat berniat memesan lewat aplikasi, namun akhirnya membatalkan karena biaya pengiriman yang tinggi.
“Toko saya berada di pusat kota yang jadi zona merah demonstran. Orang khawatir untuk datang langsung, sementara lewat aplikasi ongkirnya jadi mahal,” katanya.
Alhasil, banyak produk yang tidak terjual harus ia bagikan secara cuma-cuma. Kondisi tersebut diperparah dengan banyaknya pembatalan pesanan karena sejumlah event di Surabaya batal digelar.
“Bahkan, hingga siang hari ini. Penjualan roti dan cookies masih jauh lebih sedikit jika dibanding hari-hari biasanya. Ya emang laku, tapi sedikit. Dan ternyata saat saya buat status di WA (soal penjualan sepi), ternyata banyak temen-temen yang mengeluhkan hal yang sama,” pungkasnya.
Meski mengalami penurunan penjualan cukup besar, Diah menegaskan dirinya tidak menyalahkan aksi demonstrasi yang dilakukan masyarakat. Ia memahami keresahan publik terkait rencana kenaikan pajak yang dinilai memberatkan, termasuk bagi pelaku UMKM seperti dirinya.
“Harapannya pemerintah bisa segera menenangkan situasi dan mencari solusi terbaik. Kalau kondisi terus tidak kondusif, perekonomian masyarakat, termasuk UMKM, yang akan semakin terpukul,” pungkasnya.
Para pelaku UMKM di Surabaya berharap, situasi bisa segera kembali normal agar aktivitas jual beli berjalan lancar. Mereka juga menanti kebijakan pemerintah yang lebih berpihak, bukan justru menambah beban melalui regulasi baru. (fyi/but)






