Bondowoso (beritajatim.com) – Perubahan pola belanja masyarakat di era digital mendorong pelaku usaha untuk terus berinovasi. Hal itu dirasakan langsung oleh Andri Mustafa, pedagang kambing asal Desa/Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, yang kini sukses meraup cuan dari penjualan daging kambing kemasan melalui pemasaran digital.
Andri menuturkan, usaha peternakan yang dirintisnya sejak 2016 awalnya hanya berfokus pada sistem fattening atau penggemukan kambing. Seiring waktu, ia juga mengembangkan usaha jual beli kambing atau trading.
“Saya memulai usaha peternakan tahun 2016. Waktu itu hanya fokus fattening dan trading. Akhir tahun 2025, saya menjual daging kambing di kios Pasar Cermee,” kata Andri, Rabu (14/1/2026).
Masuknya era digital membuat Andri mulai mencoba pola pemasaran baru. Sejak sepekan terakhir, ia menjual daging kambing dalam bentuk kemasan per kilogram yang siap diantar langsung ke konsumen.
“Sekarang saya mencoba menjual daging kemasan per kilogram dan siap antar. Alhamdulillah, dengan cara ini usaha justru semakin lancar,” ujarnya.
Menurut Andri, pelaku usaha harus adaptif mengikuti perubahan zaman. Penjualan tidak lagi bergantung pada pembeli yang datang ke kios pasar, melainkan aktif menjangkau konsumen melalui layanan daring.
“Era digital membuat kita sebagai pengusaha harus mengikuti perkembangan zaman. Menjual produk tidak harus berdiam di kios pasar saja, tapi juga jemput bola,” tuturnya.
Dalam layanan daging kemasan, usaha miliknya yang dikenal dengan nama Bedhus Merah menyediakan beberapa pilihan sesuai kebutuhan konsumen. Daging super dijual Rp140 ribu per kilogram, daging campur atau mix Rp120 ribu per kilogram, serta tulangan Rp100 ribu per kilogram.
Selain itu, tersedia pula paket kepala dan kaki kambing. Paket yang sudah bersih tanpa bulu dibanderol Rp70 ribu, sementara paket yang masih belum dikerok bulunya dijual seharga Rp50 ribu.
Keputusan beralih ke penjualan daging kemasan terbukti membawa dampak positif. Saat Pasar Cermee sempat dilanda banjir pada akhir pekan lalu, kios daging milik Andri tidak mendapatkan pembeli. Namun penjualan secara daring tetap berjalan.
“Waktu pasar Cermee kebanjiran, kios saya seharian nol pembeli. Tapi alhamdulillah, penjualan daging lewat online masih jalan,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, Andri juga mulai mengembangkan layanan daging kambing kemasan lengkap dengan bumbu serta paket aqiqah. Untuk menjaga kepercayaan konsumen, seluruh proses produksi dilakukan secara transparan dan terdokumentasi.
“Setiap proses kami dokumentasikan, mulai dari kambing masih hidup, penyembelihan, sampai siap saji. Itu bagian dari komitmen kami menjaga kepercayaan konsumen,” pungkasnya.
Inovasi yang dilakukan Andri Mustafa menunjukkan bahwa pelaku UMKM di daerah mampu bertahan dan berkembang dengan memanfaatkan teknologi digital, sekaligus menjadi inspirasi bagi pedagang tradisional lainnya di Bondowoso. [awi/beq]






