Malang (beritajatim.com) – Para pedagang bendera merah putih di Malang mengaku penjualan tahun ini merosot tajam dibandingkan 3 tahun terakhir. Penurunan terjadi hingga 50 persen lebih pada pekan pertama bulan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Penjual Bendera Merah Putih di Jalan Mayjend Wiyono, Udin (25 tahun) mengatakan bahwa dia dan keluarga berjualan sejak 25 Juli 2026 kemarin. Momen Agustusan menjadi saat yang ditunggu bagi mereka untuk berjualan bendera dan atribut merah putih.
Namun, berbeda dengan 3 tahun terakhir. Tahun ini omzet penjualan mereka menurun drastis. Perbandingan pada tahun kemarin Udin dan keluarga bisa menjual hingga 300 lebih pcs atribut merah putih berbagai ukuran di 1 pekan pertama jualan. Tahun ini penjualan baru sekitar 100 an pcs.
“Menurun kalau dibandingkan beberapa tahun terakhir. Kalau tahun lalu 1 pekan jualan itu sudah laku 300 pcs sekarang baru 100 pcs. Harga semua kan naik semua bahan juga naik sepertinya itu pengaruh ke daya beli,” kata Udin, Senin, (3/8/2026).
Udin dan keluarga sudah berjualan bendera sejak tahun 1996 silam. Beberapa bendera mereka produksi sendiri, menjahit di rumah sendiri di daerah Buring, Kedungkandang, Kota Malang. Sisanya mereka beli dari Bandung.
Untuk tahun ini memang penjualan lesu. Namun mereka berharap pembeli tetap terus datang setiap hari hingga hari terakhir mereka jualan pada 16 Agustus 2026 mendatang.
Sementara itu, pedagang lainnya di kawasan Ksatrian, Kota Malang, Bahrul Ulum mengakui memang penjualan menurun dibandingkan 3 tahun terakhir. Dia berjualan bendera di momen Bulan Agustus sudah sejak 2023.
Pria yang biasanya menjadi pengemudi ojek online ini berharap keuntungan di momen Agustusan dengan berjualan atribut merah putih. Tetapi penjualan tahun ini masih sepi pembeli. Naiknya sejumlah harga kebutuhan pokok ditengarai menjadi alasan warga enggan membeli atribut baru dan memilih atribut yang lama untuk dipakai kembali.
“Sekarang lumayan sepi. Sekarang banyak harga-harga naik jadi gak banyak orang yang beli,” ujar Ulum. (luc/ian)






