Ringkasan Berita
* SPS Corporate menggelar aksi kemanusiaan maraton selama tujuh hari nonstop untuk menembus jalur terisolasi pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur, menjangkau belasan titik terdampak di wilayah Manggarai.
* Bantuan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan mendasar, mulai dari penyaluran unit pompa air berkekuatan tinggi dan filtrasi masif di Desa Wae Bangka, hingga pembagian sembako, selimut, karpet, serta tenda darurat guna melindungi warga dari cuaca ekstrem dan risiko runtuhnya bangunan.
————————————————————————-
Surabaya (beritajatim.com) — Tiga puluh hari pascagempa bumi menguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), jejak kerusakan dan retakan tanah masih membekas jelas di pedalaman Manggarai. Meski demikian, titik terang pemulihan mulai dirasakan oleh warga terdampak berkat aksi kemanusiaan maraton yang digelar oleh SPS Corporate.
Selama hampir tujuh hari nonstop, tim Corporate Social Responsibility (CSR) SPS Corporate menyisir kawasan terdampak di Manggarai Barat, Manggarai Tengah, hingga Manggarai Timur. Medan ekstrem, akses jalan yang terputus akibat longsor, hingga cuaca buruk tidak menyurutkan langkah tim untuk menembus wilayah-wilayah terisolasi seperti Elar, Lamba Leda, Wae Bangka, Lembor, Ruteng, Colol, dan beberapa desa lainnya.
Salah satu dampak paling vital dari aksi ini dirasakan langsung di Desa Wae Bangka, pusat mata air utama bagi desa-desa di sekitarnya. Gempa sempat menghancurkan jaringan pipa dan mencemari sumber air warga dengan lumpur. Kondisi tersebut berhasil diatasi setelah SPS Corporate menyalurkan unit pompa air berkekuatan tinggi serta sistem filtrasi masif.
Kepala Desa Wae Bangka, Tarsy Sejati, mengungkapkan rasa leganya atas kembalinya akses air bersih yang kini bahkan jauh lebih layak dibanding sebelum bencana terjadi.
“Saat gempa menghantam, jaringan pipa pecah dan sumber air tercemar lumpur. Kami sempat kebingungan harus memenuhi kebutuhan air bersih dari mana. Air bersih adalah napas kami, dan napas itu kini telah kembali,” ujar Tarsy.
Selain krisis air, ancaman runtuhnya bangunan rumah yang retak parah serta terpaan cuaca dingin jelang musim hujan menjadi kekhawatiran utama warga di pengungsian. Untuk menanggulangi hal tersebut, bantuan berupa ratusan selimut, karpet alas tidur, perlengkapan sanitasi, sembako, hingga tenda-tenda darurat tebal didirikan langsung di area pemukiman warga.
Maria (43), seorang warga lokal yang struktur rumahnya miring dan rusak berat akibat gempa, mengaku sangat bersyukur atas bantuan logistik penunjang tempat tinggal ini.
“Setiap malam kami cemas tidur di dalam rumah karena temboknya sudah miring. Apalagi udara malam di atas bukit ini dingin sekali dan hujan mulai sering turun. Bantuan tenda tebal, karpet alas, dan selimut ini sangat berarti bagi kami. Akhirnya anak-anak bisa tidur dengan hangat dan tenang,” tutur Maria mengusap air mata.
Perwakilan SPS Corporate, Fernando Anggrek, menegaskan bahwa aksi tanggap darurat ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan paling esensial bagi keselamatan dan kesehatan warga pengungsi.
“Fokus utama kami adalah memastikan kebutuhan paling mendasar seperti air bersih, bahan pangan, serta tempat bernaung yang aman dapat segera terpenuhi. SPS Corporate berkomitmen untuk terus berdiri mendampingi masyarakat Manggarai hingga denyut kehidupan dan harapan di tanah NTT benar-benar pulih kembali,” tegas Fernando.
Penyaluran bantuan ini diharapkan tidak hanya meringankan beban fisik dan psikologis para korban, tetapi juga menjadi pemantik percepatan pemulihan sosial dan ekonomi di seluruh wilayah Manggarai.[rea]






