Surabaya (beritajatim.com) – Dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina kembali ditegaskan oleh PDI Perjuangan Kota Surabaya sebagai bagian dari warisan perjuangan Bung Karno.
Sikap tersebut dinilai sebagai amanat sejarah yang tak boleh luntur, terutama dalam menjaga prinsip hak asasi manusia dan kemerdekaan setiap bangsa.
Wakil Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Achmad Hidayat, mengatakan bahwa perjuangan kemerdekaan Palestina telah menjadi bagian dari napas perjuangan bangsa Indonesia sejak awal kemerdekaan.
Bung Karno, sebagai proklamator dan Presiden pertama RI, secara konsisten menolak segala bentuk penjajahan, termasuk terhadap rakyat Palestina.
“Tertuang dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,” kata Achmad Hidayat.
Dia juga mengingatkan bahwa secara resmi, Indonesia tidak pernah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Bahkan, pada 14 Mei 1948 — tepat saat Israel memproklamasikan diri sebagai negara — Bung Karno mengeluarkan perintah tegas untuk tidak mengakui keberadaan Israel sebagai negara yang sah.
Lebih lanjut, Achmad menyebutkan bagaimana keberpihakan Bung Karno terhadap Palestina tercermin dalam tindakan nyata, termasuk menolak Timnas Indonesia bertanding melawan Israel. Menurutnya, keputusan tersebut lahir dari pemahaman mendalam Bung Karno atas penderitaan bangsa yang masih dijajah.
“Beliau (Bung Karno) memahami betul situasi kebatinan bangsa yang masih dalam penjajahan dan belum mendapatkan kemerdekaan, sehingga berani mengambil keputusan di atas suara nurani rakyat,” ujarnya.
Dalam momentum politik global yang semakin kompleks, Achmad mengajak agar semangat anti-penjajahan yang diwariskan Bung Karno terus dikobarkan. Dia menyebut, perjuangan untuk Palestina bukan semata soal diplomasi, tetapi menyangkut solidaritas kemanusiaan dan nilai-nilai keadilan universal.
“Semua harus mengingat bahwa ini adalah Amanat Sang Penyambung Lidah Rakyat. Semangatnya harus terus kita kobarkan untuk dapat terus memperjuangkan kemerdekaan yang berdaulat dan kesetaraan untuk memperoleh hak-hak dasar sebagai manusia,” tegasnya.
PDI Perjuangan Surabaya juga menilai bahwa semangat Dasasila Bandung, yang lahir dari Konferensi Asia Afrika 70 tahun silam, masih relevan dalam membingkai sikap politik luar negeri Indonesia.
“Dengan dihadiri 29 negara saat itu, semangat solidaritas Asia-Afrika menjadi pedoman bagi penolakan terhadap segala bentuk penjajahan hingga hari ini,” tandas Achmad. [asg/ian]






