Jakarta (beritajatim.com) – Potensi jemaah umroh Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami kenaikan seiring promosi kesejahteraan umat Islam di negara ini. Setiap tahun, volume jemaah umroh Indonesia berkisar 1,2 juta sampai 1,5 juta jemaah.
Dari jumlah itu, PT Garuda Indonesia, BUMN yang bergerak di bidang transportasi udara, baru mampu merebut pangsa pasar sekitar 30 persen. Sisanya diperebutkan banyak maskapai penerbangan lain maupun asing seperti Lion Air, Saudi Airlines, Qatar Airways, Emirates.
Garuda Indonesia menilai, estimasi total jemaah sekitar 1,2 hingga 1,5 juta orang per tahun. Saat ini, pangsa pasar Garuda berada di kisaran 30 persen, sehingga peluang peningkatan masih terbuka lebar.
“Jadi ceruknya masih besar. Masih banyak jemaah yang stop over di Singapura, di Kuala Lumpur, sekarang ada di China, bahkan ada yang di India. Nah ini bagaimana kami hadir sebagai perwakilan negara bisa meningkatkan market share,” kata Direktur Niaga Garuda Indonesia, Reza Aulia Hakim mengutip Himpuh.or.id, Kamis (26/2/2026).
Untuk meningkatkan persentase market share potensi jemaah umroh nasional, Garuda Indonesia menyiapkan skema baru dalam optimalisasi armada penerbangan.
Ke depan, katanya, pesawat yang selama ini digunakan untuk melayani penerbangan umrah akan dialihkan pemanfaatannya untuk mendukung operasional penerbangan haji yang bersifat musiman.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi armada sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pesawat sewaan saat musim haji tiba.
Reza mengungkapkan, secara konsep, layanan penerbangan umrah dan haji memiliki kesamaan pola operasional. Yakni mengangkut jemaah dari Indonesia menuju Arab Saudi PP.
“Ke depannya, di network dan plan kita, pesawat yang digunakan jemaah umrah ini akan di-carry over atau di-roll out untuk penggunaan haji,” ujar Reza.
Skema carry over atau roll out ini berarti pesawat yang melayani umrah sepanjang tahun tetap berada dalam jaringan operasional Garuda Indonesia. Armada itu kemudian dialihkan untuk mendukung penerbangan haji saat periode puncak, tanpa perlu sepenuhnya mengandalkan tambahan pesawat sewaan.
Dengan strategi ini, Garuda menilai pemanfaatan armada bisa dilakukan secara lebih optimal. “Pesawat yang kita [gunakan untuk haji] juga sewa. Tidak semua pesawat tidak menggunakan pesawat dari Indonesia sendiri,” ungkap Reza.
Reza mengakui, secara profesional terdapat perbedaan signifikan antara layanan haji dan umrah, terutama dari sisi periode operasional. Meski demikian, konsep dasar penerbangannya tetap serupa. “Saat ini umrah dan haji sebenarnya secara profesional ada perbedaan yang signifikan, namun secara konsep mirip-mirip,” tambahnya. [air]






