Jember (beritajatim.com) – Muhammad Iqbal, dosen ilmu komunikasi politik Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menilai para calon presiden dituntut membumikan seluruh istilah dan kosakata sulit dari visi misi masing-masing dalam debat putaran ketiga, Minggu (7/1/2024) malam ini.
Debat malam ini bertema Pertahanan, Keamanan, Hubungan Internasional, dan Geopolitik. Menurut Iqbal, bahasa visi dan misi para calon presiden harus menjadi bahasa kesadaran warga. “Tuntutan itu sangat wajar karena kapasitas tiga capres akan dikonversi jadi pertimbangan rasional para pemilihnya,” katanya.
“Kita tahu postur pemilih pilpres 2024 didominasi generasi Z dan milenial dengan aneka persoalan ekonomi, sosial, dan kultural domestik yang masih banyak yang terimpit dan penuh ketidakpastian. Jika argumentasi tiga capres masih berputar pada ancaman pertahanan dan keamanan hard power global, tanpa mengait-ikatkan dengan problem nyata rakyat, mana bisa tumbuhkan harapan rakyat untuk bangkit dan ikut bergerak,” kata Iqbal.
Iqbal mencontohkan pembahasan soal alat utama sistem pertahanan (alutsista) dan modernisasi teknologi militer dengan anggaran sangat besar. “Sementara rakyat setiap hari menghadapi ketidakpastian soal lonjakan harga pangan, kelangkaan pupuk, kesulitan bekerja hingga tekanan kesehatan mental dan disrupsi dampak buruk konten digital,” katanya.
Sementara di sisi yang lain, Iqbal menilai debat kali ini akan mempertontonkan persepsi tentang ‘desain rumah’ dan ‘beranda batas pagar Indonesia’ yang bakal jadi sorotan dunia dan warga. “Maka, sudah seharusnya para capres berargumentasi dengan bahasa yang konkret, masuk akal sehat rakyat, dengan intensi menumbuhkan harapan yang kuat,” katanya.
Debat putaran ketiga akan sangat krusial bagi Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo. “Kemampuan mengelaborasi visi misi dengan artikulasi yang lebih membumi tentu akan meraih banyak simpati. Sebaliknya, jika terdesak dan malah bikin blunder, publik bisa lebih look down dan jadi berpikir ulang untuk dijadikan capres pilihan,” kata Iqbal. [wir]






