Malang (beritajatim.com) – Paper Power atau gerakan memasang poster berisikan isu terkait Tragedi Kanjuruhan menyebar disudut-sudut Malang. Bahkan poster ini menyebar ke seluruh daerah di Indonesia.
“Paper Power berusaha menyoroti pentingnya tulisan dan media dalam memberi suara kepada mereka yang sering kali tidak terdengar atau diabaikan dalam masyarakat,” kata aktivis Paper Power yang disembunyikan identitasnya.
Aktivis Paper Power menuturkan ide gerakan ini muncul pada pertengahan bulan November 2022 namun eksekusi dan teknis sebaran mereka mulai sekitar Desember 2022.
Pertama mereka melakukan diskusi dan pembahasan panjang, tim melakukan kurasi isu dan proses desain komunikasi visual. Rangkaian ini memakan waktu sepanjang pertengahan November hingga akhirnya disebar pada awal Desember.
“Salah satu yang menjadi pemicu ide Paperpower muncul ialah, kami menilai publik Malang mulai agak sedikit terpecah konsentrasi dan kegelisahan yang tidak menentu dalam merespon Tragedi Kanjuruhan di bulan Oktober,” ujarnya.
BACA JUGA:
Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Minta Penyelidikan Lanjut
“Mulai dari adanya pernyataan yang kurang tepat dari salah satu koordinator Tim Gabungan hingga isu-isu rivalitas sepakbola yang masih saja dipermasalahkan. Sehingga menimbulkan polemik dan lunturnya rasa simpati di kanal media sosial dari publik luar kepada publik Malang yang sedang mengalami musibah Tragedi Kanjuruhan ini,” imbuhnya.
Dari serangkaian problematikan tersebut, aktivis Paper Power berupaya hadir menggembalikan kesadaran dengan apa yang mereka bisa. Jalan yang mereka ambil adalah pendekatan visual berupa poster untuk hadir di tengah masyarakat.
Dalam karya poster yang mereka sebar. Tim Paper Power mengkurasi isu yang terstruktur mulai dari menyorot tindakan repsif aparat, federasi sepakbola, klub, hingga menggunakan ikon Munir menggunakan syal suporter sebagai representasi aktivis hak asasi manusia yang juga sekaligus merupakan Arek Malang.
BACA JUGA:
Peringatan 1 Tahun Tragedi Kanjuruhan Malang: Moratorium Penggunaan Gas Air Mata di Indonesia
“Materi dan pendekatan-pendekatan visual kami rancang sedemikian rupa, kami tujukan agar problem Tragedi Kanjuruhan ini tidak hanya menjadi problem entitas suporter sepakbola terkhusus Aremania saja, namun harus menjadi kesadaran Masyarakat pada umumnya agar tak akan pernah terjadi lagi dikemudian hari,” ujarnya.
“Kami tetap menyampaikan protes dengan visual dan takjuk utama yang ringkas dengan cara yang porposional, damai, dan tanpa terikat waktu dan tempat,” ujarnya. [luc/beq]






