Mojokerto (beritajatim.com) – Jika sebelumnya jelang tahun baru Imlek, kue keranjang yang diproduksi Atik Susiana Wati Elisa (46), ramai pesanan. Namun karena pandemi, perajin kue keranjang warga Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini mengaku, sepi pesanan.
Kue keranjang tersebut merupakan usaha turun temurun dari sang nenek. Almarhum kakek dan neneknya merupakan asli China sehingga resep kue khas Imlek itu dibawa dari China sekitar 70 tahun lalu. Pandemi membuat usahanya tersebut sepi, saat ini ia hanya dibantu oleh satu orang karyawan saja.
Padahal sebelumnya, ada lima karyawan yang membantu memproduksi kue keranjang dengan pesanan hingga lebih dari 200 per hari. Namun satu minggu jelang Imlek tahun 2022 ini, istri dari Ronald Eduward (51) ini, baru melakukan pengiriman ke Surabaya dua kali sebanyak 200 biji.
“Sudah mulai produksi sejak seminggu lalu. Rata-rata dua minggu jelang Imlek, sudah produksi. Dulu stabil tapi semenjak ada Covid-19, lumayan turunnya. Hampir 50 persen. Sampai hari ini, kalau ukuran beras ketan sekitar 1 kwintal yang sudah diproduksi,” ungkapnya, Sabtu (22/1/2022).
Masih kata Atik, jumlah pesanan tahun 2021 dengan tahun ini hampir sama. Sementara untuk harga juga masih sama karena beras ketan dan gula sebagai bahan dasar pembuatan kue keranjang harga masih sama. Ia menduga turun jumlah pemesan selain pandemi Covid-19 juga kebutuhan.

“Iya sudah ada langganan tetap, tapi kadang saya tawarkan ke anaknya bilangnya orang tuanya sudah tidak ada sehingga tidak pesan. Kue keranjang ini adanya pas Imlek, setahun sekali. Di toko tidak ada kalau tidak pesan. Meski setahun sekali dan pesanan turun tapi hasilnya lumayan menguntungkan,” katanya.
Atik menjelaskan, pada zaman neneknya, kue keranjang dicetak menggunakan keranjang dari anyaman bambu. Sehingga kue berbahan dasar ketan dan gula pasir ini diberi nama kue keranjang. Namun seiring berjalannya waktu, cetakan keranjang diganti dengan bahan aluminium.
“Karena cetakan dari anyaman bambu hanya bisa untuk sekali pakai sehingga sekarang pakai cetakan dari alumunium. Saya mulai membuat kue keranjang sekitar tahun 2011, saya warisi dari ibu saya. Kalau di sini, ukurannya besar. Satu kue beratnya 1/2 kg. Jadi harus ditimbang biar sama bentuknya,” ujarnya.
Menurutnya jika beratnya tidak sama maka kue keranjang yang dihasilkan juga tidak sama satu dengan yang lainnya. Kue keranjang produksi Atik tidak menggunakan bahan pengawet. Meski tidak menggunakan bahan pengawet, namun kue keranjang tersebut bisa bertahan hingga satu tahun.
“Kue keranjang ini, bahan dasarnya hanya beras ketan dicampur gula pasir. Untuk takaran gula pasir dan beras ketan masing-masing, 1 : 1. Pertama gula pasir disangrai terlebih dulu sampai berwarna kecoklatan. Setelah diperoleh warna yang diinginkan gula pasir sangrai itu didinginkan,” jelasnya.

Beras ketan yang sudah dibersihkan dan digiling dicampur gula pasir yang mencair ditambah air pandan sampai menjadi adonan padat. Setelah menjadi adonan kemudian adonan dituang ke dalam cetakan dan ditimbang untuk menyamakan takarannya. Kue yang sudah dicetak dikukus selama dua jam.
“Dikukus selama dua jam dengan menggunakan kompor minyak tanah karena panasnya merata. Dua jam, tidak boleh kurang, tidak boleh lebih karena kalau lebih dua jam warnanya lebih gelap dan kalau kurang dari dua jam warnanya terang. Jadi harus dua jam kukusnya, setelah itu diangkat dan didinginkan,” paparnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”imlek-2021″]
Kue keranjang yang telah matang kemudian dikemas dengan plastik dan diberi label dengan Bahasa Mandarin yang artinya Bahagia. Karakteristik bentuk kue keranjang yang baru dibuat satu atau dua minggu ini masih dalam kondisi lembek dan lengket. Kue keranjang tersebut akan mengeras sekitar satu bulan.
“Ada yang suka menikmati kue keranjang dipotong kecil-kecil jadi harus dikukus dulu kalau sudah mengeras. Apalagi kalau dimasukkan dalam kulkas dalam waktu yang lama, bisa mengeras sehingga saat mau menikmatinya harus dikukus terlebih dahulu,” pungkasnya.
Kue keranjang tersebut digunakan sebagai salah satu perlengkapan sembahyang saat Imlek sehingga hanya ada satu tahun sekali yakni saat perayaan tahun baru Imlek. Setelah selesai menjadi persembahan saat sembayang, kue keranjang tersebut kemudian dimakan bersama keluarga dan teman. [tin/ted]






