Dunia bisnis berhadapan dengan persoalan riil saat ini. Pandemi Covid-19 dan produktivitas yang menurun. Keduanya berdampak signifikan pada cash flow yang kini dibuat jauh dari optimis. Bahkan seorang pengusaha Surabaya tiba-tiba menulis status di Facebook, jaman sekarang, bisa bertahan saja sudah bagus.
“Nggak perlu bermimpi laba besar apalagi pengembangan,” tulisnya. User sosial media yang lain, juga pengusaha Surabaya, bercerita jika usaha cafe-nya di Bali mandeg gara-gara pandemi.
Akhir 2019, katanya, ia mempersiapkan sebuah cafe di Denpasar. Kredit bank lancar, sehingga akhir Maret 2020 cafenya siap beroperasi. Apa daya, badai Covid-19 tiba-tiba datang dan semua harus berhenti. Rugi? Jelas. Apalagi ini hasil kredit bank. Ia harus berpikir cicilan dan strategi efisiensi.
Cerita pilu bermunculan di berbagai belahan dunia. Kisah para pekerja yang dirumahkan bahkan di PHK, investor yang menghentikan suplai dukungannya pada sebuah startup, dan masih banyak lagi.
Selebihnya, banyak perusahaan berjuang keras untuk bertahan. Wacana work from home yang muncul memberi konsekuensi beban biaya telekomunikasi yang membengkak. Baik untuk kebutuhan telepon reguler, selular, dan, tentu saja, internet.
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mencatat, hingga minggu ketiga Maret 2021, di masa pandemi, akibat kebijakan belajar dan bekerja dari rumah, lonjakan penggunaan platform digital naik sampai 433 persen. Data ini termasuk lompatan pemanfaatan transaksi keuangan digital.
Kenyataan ini ternyata tak selalu menjadi solusi. Beberapa perusahaan mengeluh, work from home kerap dipahami sebagai ‘hari libur nasional’. Sehingga tingkat produktivitas karyawan, yang akhirnya berimbas pada perusahaan, bergerak makin rendah.
Kebijakan hybrid akhirnya dianggap yang paling masuk akal. Pekerja yang memiliki tugas harus ke kantor, bergantian duduk di meja kerja seperti biasanya. Entah strategi 30 persen atau 50 persen work from office, dinilai sangat membantu upaya menjaga produktivitas.
Survei TinyPulse menyebut, 62,8 persen pimpinan SDM melihat model kerja hybrid sebagai pendekatan paling produktif untuk perusahaan mereka di masa sekarang. Pada saat bersamaan, Global Workplace Analytics memproyeksikan bahwa 25 persen hingga 30 persen tenaga kerja akan bekerja dari rumah, beberapa hari dalam seminggu pada akhir tahun 2021.
Sayangnya, karena alasan-alasan tertentu, menurut Microsoft Research, lebih dari 40 persen tenaga kerja global sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan perusahaan mereka pada tahun 2021. Bisa jadi kelompok ini berpikir jika pola kerja yang ada, baik kerja di rumah maupun di kantor dirasa kurang nyaman. Entah ketakutan karena terjangkit Covid-19, atau intensitas kerja yang makin berat.
Ya, makin berat. Lagi-lagi menurut Microsoft Research, 54 persen karyawan mengaku jika kondisi sekarang justru dianggap terlalu banyak bekerja, dan 39 persen lagi merasa lebih melelahkan. Riset ini muncul berdasar sinyal produktivitas dari Microsoft 365, rapat Microsoft Teams pada Februari 2020 hingga Februari 2021 telah melonjak. Sederhananya, hari kerja dianggap makin intens ketimbang biasanya.
Hal ini tentu berdampak pada cara pandang yang antar perusahaan jadi berbeda. Saat perusahaan menuntut semua pekerjaan dilakukan secara langsung dari kantor, mereka cenderung mengabaikan peningkatan produktivitas. Jika perusahaan melakukan hybrid dan melihat produktivitas turun, bisa jadi gara-gara dampak psikhologis melihat kantor kosong sementara cashflow tetap berjalan di tempat, mereka mulai gusar.
Spekulasi yang muncul, kegusaran itu muncul karena budaya perusahaan yang selama ini memang lebih suka model kerja di kantor sekaligus melestarikan kontrol dan manajemen mikro. Dalam kondisi seperti itu, joke baru pun muncul ; normal baru mulai terbentuk, beberapa perusahaan siap merusaknya.
Digitalisasi dan Kemandirian
Isu transformasi digital terus merebak. Henry Subiakto, Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, pernah memaparkan data nilai ekonomi berbasis internet di Asia Tenggara. Data yang ia kutip dari laporan e-Conomy SEA 2020 itu menyebut, nilai ekonomi itu mencapai 105 miliar Dollar AS atau Rp 1,470 triliun.
Dari capaian ini, 44 miliar Dollar AS atau Rp 616 triliun di antaranya disumbang Indonesia. Nilai ekonomi digital di Indonesia diperkirakan tumbuh 11 persen dibanding tahun sebelumnya.
Dalam kondisi demikian, karena setiap orang kini berpotensi jadi pengakses informasi, banyak karyawan akhirnya memilih untuk mencari peluang lain. SDM modern rata-rata melihat karir sebagai sesuatu hal yang berbeda. Didukung UU Ketenagakerjaan dan obrolan di media sosial, SDM memiliki rasa percaya diri yang jauh lebih baik.
Beban pekerjaan hybrid, bagi SDM semacam ini, jadi alasan cukup untuk memperpanjang daftar tempat kerja di portofolio. Artinya, mereka siap mengundurkan diri untuk kerja di tempat lain atau menjadi pekerja lepas. Di sisi lain, banyak perusahaan mulai berpikir untuk menambah jam kerja di kantor, dari dua hari seminggu menjadi empat hari work from office.
Sampai di sini, SDM merasa memiliki alasan makin kuat. Ditambah penyekatan selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, jadi isu baru yang membuat mereka makin terbebani. Sudah bukan rahasia, Surabaya misalnya, dikenal sebagai kota urban. Kota yang hidup karena pekerja dengan domisili luar kota.
Jika karyawan harus berhenti di pintu penyekatan, tidak bisa ke kantor, ia terancam teguran, surat peringatan, bahkan PHK. Dan pemikiran ini tak selalu tumbuh di benak manajemen human resources department (HRD).
Di karyawan level supervisi ke atas, isunya mungkin berbeda. Karena penyekatan dan sejenisnya, tak ada lagi perjalanan dinas ke luar kota atau luar negeri. Sementara meja kerjanya dipenuhi surat teguran karena target produksi atau marketing tak sesuai hasil rapat kerja akhir tahun.
Puluhan tahun silam Alvin Toffler sebenarnya sudah mengingatkan kita. Bahwa gagasan bekerja jarak jauh atau telework jadi sesuatu hal yang tak bisa dipungkiri. Bekerja jarak muncul sebagai strategi pengaturan bekerja yang leluasa (fleksibel), yang memungkinkan tercipta keseimbangan bekerja dan kehidupan keluarga, kekurangan tenaga terampil terpenuhi, dan ekonomi kawasan pinggiran terpadu dengan pusat kota.
Artinya, tidak bisa tidak, rencana kerja hybrid, work from office, atau work from home, mesti diperhitungkan dengan matang. Agar setiap perusahaan dan karyawan tak kehilangan peluang. Seorang CEO sebuah perusahaan ternama di Surabaya pernah mengingatkan saya, tidak hanya owner atau pimpinan, setiap orang harusnya berpikir bahwa ia harus mempertahankan kelangsungan hidup tempat bekerja. Dalam kondisi apapun, dalam situasi apapun.
Jika strategi bertahan itu terjaga, saat pandemi reda, semua akan berjalan normal dan kita tinggal berpikir tahap selanjutnya. Bukan restart, apalagi mulai dari awal. [hdl/ted]






