Surabaya (beritajatim.com) – Kepercayaan voodoo datang dari benua afrika yang menganut animisme atau dinamisme. Di sisi lain, mereka ada pun yang percaya terhadap Tuhan yang menciptakan alam semesta dan penguasa, mereka disebut Bondye.
Dalam anutan voodoo, mereka beribadat dengan menjalin hubungan dengan roh-roh yang dipresentasikan dengan benda keramat. Upacara ini dilakukan dengan iringan musik dan tarian sesuai ciri khas daerah masing-masing.
Penganut voodoo percaya adanya ilmu perdukunan atau sihir. Mereka meyakini bahwa dunia ini ditinggali oleh roh. Roh ini dapat berdampak pada mereka yang masih hidup.
Mereka dapat bernasib buruk ataupun baik. Ritual mereka identik dengan peribadatan yang menyeramkan. Sehingga mereka seringkali dikaitkan dengan ajaran satanisme, mayat hidup atau zombie atau boneka voodoo. Boneka voodoo ini seperti halnya di Indonesia yaitu boneka santet yang dapat menyakiti seseorang dari jauh.
Ritual voodoo tempo dulu menggambarkan, seringkali mengorbankan anak perempuan berusia remaja yang sudah akil baligh. Para penganut voodoo ini akan mempersembahkan gadis tersebut kepada Bondye melalui perjanjian gaib. Selanjutnya, arwah nya akan dimasukkan dalam joneka voodoo.
Konon, jika terdapat seseorang yang terkena serangan dari santet atau boneka voodoo ini, ia tidak akan disembuhkan dengan cara apapun. Kecuali, ia dapat menemukan dan mendapatkan boneka voodoo yang dipakai untuk menyerang tersebut lalu di bakar.
Beberapa orang menganggap bahwa voodoo tidak seperti santet atau ilmu hitam. Voodoo mungkin tidak seperti yang dipikirkan.
Menurut Saumya Arya Hass seorang contributor digital outreach coordinator di Agape Editions, Voodoo tidak digambarkan sama persis seperti di sebagian besar film, acara TV, dan buku. Bahkan beberapa film dokumenter dan buku non-fiksi menyesatkan.
Voodoo bukanlah pemujaan, ilmu hitam atau pemujaan setan. Orang yang mempraktikkan Voodoo bukanlah dukun, penyihir, atau okultis. Voodoo bukanlah praktik yang dimaksudkan untuk menyakiti atau mengendalikan orang lain. Kebanyakan Voodooist belum pernah melihat “boneka Voodoo.
Jika Voodoo hanyalah agama lain, mengapa semua orang menganggapnya menakutkan?
Rasisme mengaburkan pandangan kita tentang Voodoo. Ini berakar pada perbudakan dan secara rumit terhubung dengan evolusi politik dan sosial.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ilmu-hitam”]
Voodoo pertama kali dipraktekkan di Amerika dan Karibia oleh budak keturunan Afrika, yang budayanya ditakuti dan diejek. Budak tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya.
Agama mereka ditolak sebagai takhayul, pendeta mereka direndahkan sebagai dukun, Dewa dan Roh mereka dicela sebagai kejahatan. Nah itu merupakan perbedaan kepercayaan dan pendapat terhadap voodoo. {rad/bjo]






