Anies Rasyid Baswedan (ABW) telah menentukan dan memilih figur bakal calon wakil presiden (Bacawapres) yang digandengnya: Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan politikus berlatar belakang aktivis Nahdlatul Ulama (NU). Bagaimana dengan bacapres Prabowo Subianto (Partai Gerindra) dan Ganjar Pranowo (PDIP)?
Keduanya, Prabowo dan Ganjar, belum memutuskan siapa figur bacawapres yang dijadikan pasangan. Nama Mahfud MD, Menko Polhukam dan intelektual dari Pulau Madura, disebut-sebut sebagai calon kuat cawapres yang ditandemkan dengan Ganjar Pranowo. Di kubu Prabowo, nama Erick Thohir, Menteri BUMN dan Ketua Umum PSSI, Muhajir Effendi (Menko PMK), dan Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian) dinominasikan sebagai bakal cawapres dari Ketum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (GerindraI tersebut.
Masuknya nama Cak Imin, panggilan akrab Muhaimin Iskandar, sebagai cawapres Anies Baswedan memberikan dampak besar dan meningkatkan dinamika politik nasional. Selama ini, tak banyak pihak yang memperkirakan politikus kelahiran Kabupaten Jombang, Jawa Timur itu melenggang ke bursa pemilihan umum (Pilpres) 2024.
Cak Imin merupakan politikus kenyang pengalaman. Dia lama duduk sebagai pimpinan dan anggota DPR RI dan pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi di Kabinet SBY-Budiono.
Tampilnya Cak Imin dan disebut-sebutnya nama Mahfud MD sebagai kandidat kuat bakal wapres yang digandeng Ganjar Pranowo makin melambungkan pandangan tentang nilai strategis wilayah Jatim dan komunitas Islam Tradisional (NU) dalam konteks perhelatan Pilpres 2024. Cak Imin dan Mahfud MD sama-sama berasal dari Jatim dan keduanya meniti karir politik dari jalur politik sama: Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Keduanya pernah sama-sama dekat dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan Ketua Umum PBNU dan salah satu deklarator PKB selain KH Mustofa Bisri, KH Muchit Muzadi, KH Iljas Ruhijat, dan KH Munasir Ali. Baik Cak Imin dan Mahfud mulai merintis dunia aktivisme di Daerah Istimewa Yogyakarta, di mana Cak Imin kuliah di Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Mahfud di Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII).
Yang membedakan, organisasi ekstrakampus yang digeluti Cak Imin dan Mahfud. Cak Imin dikenal sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan sempat menjadi Ketua Umum PB PMII di era 1990-an. Sedangkan Mahfud adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan kini menduduki posisi Dewan Pakar Keluarga Alumni HMI (KAHMI).
Tak berbeda jauh dengan Pilpres 2014 dan 2019, teritori politik Jatim menjadi palagan penting bagi semua pasangan kandidat presiden dan wapres. Justifikasi pertama dan utama adalah tingkat demografi politik Jatim. Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyebutkan besaran Daftar Pemilih Tetap (DPT) di Jatim pada Pilpres dan Pileg 2024 mencapai 31.402.838 pemilih. Terjadi kenaikan sekitar 1 juta lebih dibanding tingkat DPT pada Pileg dan Pilpres 2019 lalu.
Jumlah tersebut terdiri dari daftar reguler dan daftar pemilih pada lokasi khusus. Untuk pemilih reguler sejumlah 31.300.483 orang yang tersebar di 120.250 Tempat Pemungutan Suara (TPS), masing-masing terdiri dari 15.427.242 pemilih laki-laki dan 15.873.241 pemilih perempuan. Sedangkan pemilih pada lokasi khusus sejumlah 102.355 yang tersebar di 416 TPS. Masing-masing terdiri dari 68.314 pemerintah laki-laki dan 34.041 pemilih perempuan. Sehingga dari rincian tersebut total DPT di Jawa Timur yaitu 15.495.556 pemilih laki-laki dan 15.907.282 pemilih perempuan yang tersebar di 38 Kabupaten/Kata, 666 Kecamatan, 8.494 Desa/Kelurahan, dan 120.666 TPS.

Volume pemilih Pilpres dan Pileg 2024 di Jatim terbesar kedua di Indonesia setelah Provinsi Jawa Barat (Jabar). Dari 31 juta lebih jumlah pemilih di Jatim, ada 10 kabupaten/kota yang jumlah pemilihnya di Pilpres dan Pileg 2024 lebih dari 1 juta pemilih.
Ke-10 kabupaten/kota itu adalah Kota Surabaya dengan jumlah 2.218.586 pemilih (TPS: 8.167 unit), Kabupaten Malang dengan 2.054.178 pemilih (TPS: 7.761 unit), Kabupaten Jember dengan 1.972.216. pemilih (TPS: 7.706 unit), Kabupaten Sidoarjo dengan 1.461.642 pemilih (TPS: 5.566 unit), Kabupaten Banyuwangi dengan 1.341.678 pemilih (TPS: 5.135 unit), Kabupaten Kediri dengan 1.262.944 pemilih (TPS: 4.821 unit), Kabupaten Pasuruan dengan 1.210.602 pemilih (TPS: 4.505 unit), Kabupaten Lamongan dengan 1.044.776 pemilih (TPS: 4.153 unit), Kabupaten Bojonegoro dengan 1.033.836 pemilih (TPS: 4.278 unit), dan Kabupaten Jombang dengan 1.011.402 pemilih (TPS: 3.858 unit).
Komunitas Islam Tradisional (NU) dan Nasionalis Soekarnoisme adalah dua pilar utama lapisan sosial politik masyarakat Jatim. Suara kalangan Islam Tradisional kuat di tlatah budaya Tapal Kuda, Pendalungan, dan Madura. Sedangkan kaum Nasionalis Soekarnoisme banyak berada di kawasan Arek dan Mataraman.
Tlatah Arek merupakan melting pot latar kultural, sosiologis, politik, ekonomi, dan religi masyarakat Jatim. Kawasan Mataraman yang membentang dari Blitar sampai Pacitan dan Ngawi banyak disentuh serta dipengaruhi budaya Jawa dari Surakarta dan Yogyakarta.
Dua komunitas sosial kultural besar di Jatim tersebut, Islam Tradisional dan Nasionalis Soekarnoisme, paska-reformasi 1998 memegang kunci penting dan pengendali jalannya pemerintahan lokal di level kabupaten/kota di Jatim. Sekadar gambaran, dari 10 kabupaten/kota di Jatim dengan jumlah DPT lebih dari 1 juta pemilih pada Pileg dan Pilpres 2024 mendatang, bupati/wali kota yang memimpin dominan dari PKB dan PDIP.
Dari 10 kabupaten/kota tersebut di atas, PDIP menempatkan kader dan atau tokohnya sebagai Wali Kota Surabaya, Bupati Banyuwangi, Bupati Kediri, Bupati Malang, dan Wakil Bupati Jombang. PKB, kekuatan politik yang memiliki paralelisme historis, sosiologis, dan kultural yang kuat dengan kalangan Islam Tradisional memenangkan pertarungan pilkada di Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Bojonegoro.
Sekali pun tak menempatkan kader dan tokohnya sebagai pimpinan daerah di Kabupaten Jember, salah satu wilayah di kawasan Tapal Kuda Jatim itu menjadi lumbung suara penting dan signifikan bagi PKB. Partai ini selalu berada di tiga besar hasil pileg sepanjang pemilu orde Reformasi di Jember.
PKB dan PDIP menjadi ‘operator’ politik utama dan penting di Jatim sepanjang pesta demokrasi dihelat. Pada Pileg 2019, beda suara antara PKB dengan PDIP tak sampai 130 ribu. Di Pemilu 2019 itulah untuk pertama kalinya PDIP menang di Jatim. Sebelumnya PKB memenangkan kontestasi politik tingkat Jatim pada Pemilu 1999, 2004, dan 2014. Di Pemilu 2009, tlatah politik Jatim dimenangkan Partai Demokrat dengan tokoh sentralnya Susilo Bambang Yudhoyono yang berasal dari Kabupaten Pacitan.
Pemilu 2019 di Jatim yang dimenangkan PDIP dengan raihan 4.319.666 suara, posisi kedua PKB dengan 4.198.551 suara, Partai Gerindra di tempat ketiga dengan 2.408.607 suara, Partai Golkar dengan 2.256.056 suara, Partai NasDem dengan 2.190.169 suara, Partai Garuda dengan 80.169 suara, Partai Berkarya dengan 327.817 suara, PKS dengan 862.840 suara, Perindo dengan 479.577 suara, PPP dengan 1.192.976 suara, PSI dengan 329.621 suara, PAN dengan 1.209.375 suara, Partai Hanura dengan 244.329 suara, Partai Demokrat dengan 1.841.145 suara, PBB dengan 93.717 suara, dan PKPI dengan 34.924 suara. [air/bersambung]
Ainur Rohim,
Direktur Utama dan Penanggung Jawab beritajatim.com






