Jember (beritajatim.com) – Gibran Rakabuming Raka, calon wakil presiden nomor urut 2, mengenakan pakaian dengan simbol yang biasa dikenakan Naruto Uzukami, tokoh komik Jepang, dalam debat putaran keempat, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Minggu (21/1/2024) malam.
Ikwan Setiawan, dosen dan para cultural studies (kajian budaya) Universitas Jember di Kabupayen Jember, Jawa Timur, menyebut pakaian itu untuk menarik perhatian kaum muda yang sangat familiar dengan tokoh anime dari Konoha tersebut.
“Naruto berkarakter hiperaktif, penuh kejutan, kikuk, lugu, tetapi periang sekaligus ambisius demi mewujudkan impiannya menjadi Hokage, tokoh ninja terkuat. Gibran ingin menunjukkan kepada kaum muda bahwa ia bisa melakukan banyak hal dalam Pilpres 2024 untuk bisa menjadi cawapres. Termasuk, melakukan jurus-jurus ‘mematikan’ dalam debat,” kata Ikwan, Senin (22/4/2024).
Masalahnya, lanjut Ikwan, simbolisme yang digunakan Gibran tidak tepat. “Gibran bukan Naruto. Gibran ingin tampak seperti Naruto, tetapi tidak memahami perjuangannya. Naruto menjadi Hokage di Konoha tidak melalui proses instan. Ia harus berlatih, berjuang, dan bertarung dengan berbagai macam kondisi dan kesulitan,” katanya.
“Perjuangan Naruto itu yang tidak dimiliki Gibran. Sejak awal berkarir politik, Gibran sudah menikmati privilege, sampai yang terakhir melalui keputusan Mahkamah Konstitusi yang melanggar etik tersebut. Maka, tidak heran kalau timnya menyiapkan strategi menjatuhkan lawan dengan singkatan dan istilah sulit, seperti yang terjadi dalam debat kedua dan diulangi dalam debat semalam,” kata Ikwan.
Gibran mengulangi pemakaian jurus istilah sulit dalam debat kedua, yakni green inflation dan lithium ferro phosphate. “Gibran tidak memberikan gambaran awal tentang kedua istilah tersebut. Memang itu hak dia demi sebuah kemenangan dalam debat. Lucunya, ketika ditanya balik oleh Mahfud terkait green inflation, Gibran tidak memberikan jawaban yang jelas,” kata Ikwan.
Gibran juga gagal menjawab pertanyaan yang jelas soal ekologi, tingginya impor bahan pangan, pertambangan ilegal, dan reforma agraria. “Dia tampak sekali ia gelagapan, cenderung tidak mampu menjawab isu yang dilontarkan. Tampaknya, Gibran tidak menguasai materi yang tidak dipersiapkan oleh timnya,” kata Ikwan.
“Sebagai kompensasi, Gibran malah memberikan ucapan-ucapan receh, seperti air minum dalam botol dan Mahfud (yang dianggap) sakit hati karena mendapatkan pertanyaan sulit dalam dua kali debat. Mekanisme menyerang balik musuh, lagi-lagi, cenderung memperkuat persepsi publik bahwa ia sejatinya tidak paham,” kata Ikwan.
Dari sinilah, Ikwan menilai, muncul sentimen negatif di media sosial. “Sementara sentimen positif lebih besar untuk Muhaimin dan Mahfud. Artinya, jurus Gibran menggunakan istilah sulit ternyata menjadi bumerang,” katanya.
Sentimen negatif makin besar, menurut Ikwan, dikarenakan Gibran menggunakan ucapan-ucapan yang cenderung melecehkan Mahfud dan Muhaimin. “Kalau ada pihak yang mengatakan Gibran itu kritis, maka saya pikir itu label yang dipaksakan. Tingkah laku dia yang terkesan merendahkan dua calon lainnya setelah mereka dirasa tidak mampu memberikan jawaban, mengkonstruksi makna negatif,” katanya.
Ikwan menegaskan, konstruksi makna negatif tersebut tak terelakkan karena berbeda dengan sikap kritis. “Mayoritas publik kurang menyukai upaya merendahkan orang lain, meskipun itu musuh sekalipun, dengan cara-cara yang kurang etis. Kita tahu di kalangan santri terdapat konsep ‘adab lebih tinggi dari ilmu’ untuk menggambarkan, bagaimana seseorang yang berilmu tinggi sekalipun harus tetap mengedepankan etika,” katanya.
Gibran dinilai mengabaikan prinsip Jawa ‘menang tanpa ngasorake’ atau menang tanpa merendahkan musuh. “Artinya, kelakukan Gibran yang menabrak kedua prinsip tersebut, kalau tidak dikelola dengan hati-hati bisa saja memberikan persepsi negatif bagi calon pemilih,” kata Ikwan.
“Menjadi wajar kalau banyak warganet dan publik menilai, bahwa Gibran bukanlah representasi kaum muda. Bahkan, istilah songong yang ditujukan kepadanya sempat menjadi trending topic di X (Twitter). Saya memahami sentimen tersebut bukan bermaksud membatasi kebebasan kaum muda untuk berekspresi. Tapi ada etika yang perlu dikedepankan ketika berada dalam diskusi atau perdebatan publik,” kata Ikwan.
Terakhir, Ikwan mengatakan, menjadi figur hebat adalah hak semua manusia. “Tapi memilih jalan pintas akan menghasilkan banyak siasat, yang kalau tidak hati-hati akan menjadi kekuatan destruktif yang menyerang diri kita sendiri,” katanya. [wir]






