Lamongan (beritajatim.com) – Paguyuban Budaya Wilwatikta Kabupaten Lamongan menyelenggarakan pagelaran wayang kulit dengan lakon ‘Kidung Madali’, pada kegiatan rutin malam bulan purnama sekaligus kirim doa di 1000 hari alm. K. Ng. H. Agus Sunyoto.
Kiai Agus merupakan Ketua Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin (Lesbumi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa bakti 2015-2020. Kiai yang tutup usia di umur 62 tahun itu juga budayawan sekaligus sejarawan yang produktif menulis berkaitan dengan sejarah Islam, khususnya di Nusantara.
Turut hadir dalam kegiatan yang bertempat di situs Sitinggil Mojorejo Kecamatan Modo ini di antaranya Bupati Lamongan Yuhronur Efendi beserta jajaran, Ketua Umum Pagar Nusa Muchamad Nabil Haroen (Gus Nabil) yang juga Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, serta 33 kelompok organisasi seni budaya dan kejawen yang ada di Kabupaten Lamongan.
Dalam kesempatan ini, Bupati Yuhronur terus menggelorakan semangat kepada semua pihak agar seni budaya di Kabupaten Lamongan terus maju.
Pihaknya menegaskan, Pemerintah Kabupaten Lamongan berkomitmen untuk terus mendekatkan tradisi kepada masyarakat melalui pelaksanaan beragam festival kebudayaan. Menurutnya, hal itu bertujuan agar masyarakat bisa semakin mengenal dan melestarikan tradisi yang merupakan warisan budaya masa lampau.
“Dalam pagelaran ini, kita dapat belajar banyak tentang tradisi. Sebagai generasi bangsa, kita harus mengenal dan melestarikan tradisi budaya yang ada di Kabupaten Lamongan,” tutur Yuhronur, ditulis Minggu (28/1/2024).
Sementara itu, Gus Nabil menyebut bahwa melestarikan tradisi dan budaya adalah suatu hal yang penting untuk dilakukan. Hal itu dilakukan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkarakter dan berbudi luhur.
“Kita semua adalah bagian yang utuh, mempunyai keinginan dan arah gerak yang sama untuk nguri-uri budaya luhur Nusantara demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang berkarakter dan berbudi luhur,” tandasnya.
Sebagai informasi, Lakon Wayang Kidung Madali dalam pagelaran ini dipaparkan oleh Dalang Ki Ardhi Poerboantono dari Malang, yang juga kerap menyampaikan pesan-pesan moderasi dari KH. Agus Sunyoto.
Mengenai Kidug Madali, cerita diawali dari kisah kelahiran Majapahit Gajah Mada di Gunung Ratu Ngimbang Lamongan. Mada kecil yang seorang diri itu menangis keras di gunung tersebut. Kemudian datanglah Ki Gede Sidowayah atau Resi Dharmayogi yang hendak menolongnya.
Kala itu, dalam cerita ini, Ki Gede Sidowayah mendapati Gajah Mada yang masih bayi menangis di samping ibunya yang sudah dalam keadaan meninggal dunia. Ki gede lalu menolongnya dan memakamkan jasad perempuan yang merupakan ibu dari Gajah Mada.
Di tempat itu pula, Ki gede Sidowayah menemukan kotak yang berisi mahkota dan pakaian ratu. Sejak saat itulah, gunung tersebut diberi sandi Ratu. Singkat cerita, Ki gede membawa Mada kecil ke Modo dan dititipkan ke Mbok Rondo Wora Wari, sekaligus menyimpan kotak yang berisi mahkota dan pakaian ratu tersebut.
Seiring bertambahnya dewasa, Mada dididik oleh Ki Gede Sidowayah sampai pada akhirnya bisa menjadi prajurit Majapahit dan mampu menempati posisi sebagai pimpinan prajurit.
Ki gede Sidowayah lalu membuka kisah tentang penemuan bayi itu dan menceritakan semua. Usut punya usut, beberapa elit Majapahit akhirnya menyadari jika ternyata perempuan yang dimakamkan di gunung ratu tersebut adalah Ratu Tribuaneswari, yakni putri dari Raja Kartanegara yang pertama dan permaisuri dari Raden Wijaya.
Berdasarkan versi dari kisah ini, Tribuaneswari menjadi korban siasat Dara Pethak. Raden Wijaya terpengaruh hingga harus mengusir Tribuaneswari dari Majapahit. Tribuaneswari lalu menyamarkan dirinya menjadi Andong Sari sampai singgah di Gunung Ratu ini.
Dalang Ki Ardhi terus menampilkan kisah ini dalam pagelaran wayang kulit tersebut. Bahkan hingga kisah berlanjut saat Gajah Mada mampu membawa kejayaan Majapahit dan menorehkan titahnya pada Prasasti Gajah Mada dan membangun catya untuk kakeknya Raja Kartanegara. [riq/but]







