Indiana (beritajatim.com) – Jika ada penghargaan tentang NBA Finals terbaik, maka bentrokan antara Oklahoma City Thunder dan Indiana Pacers musim ini layak masuk nominasi. Bagaimana tidak. Hasil pada game keenam pagi tadi membuat skor kembali imbang 3-3 berkat kemenangan Pacers 108-91.
Situasi tersebut membuat penentuan juara musim ini harus ditempuh via game ketujuh. Dalam sejarah NBA, ini menjadi final ke-20 yang ditentukan melalui best-of-seven. Sebelumnya terjadi di edisi 2016, 2013, 2010, 2005, 1994, 1988, 1984, 1978, 1974, 1970, 1969, 1966, 1962, 1960, 1957, 1955, 1954, 1952, dan 1951.
Tetapi, dari 19 final sebelumnya, hanya 4 di antaranya yang terjadi sejak era milenial. Artinya, rata-rata hanya satu final yang ditentukan di game ketujuh per lima tahun.
“Kami hanya ingin agar mereka (Thunder, Red) tidak berpesta di rumah kami. Kemenangan ini berkat effort luar biasa semua pihak,” ujar point guard Pacers Tyrese Haliburton dilansir ESPN.
Pacers memang on fire sejak awal di game yang dimainkan di Gainbridge Fieldhouse, Indiana. Buktinya, poin mereka selalu unggul di tiga kuarter awal.
Di kuarter keempat, Thunder bangkit dengan unggul 31-18. Tetapi, selisih 17 poin di sisa waktu kuarter keempat gagal mereka pangkas. Kontribusi forward Pacers Pascal Siakam jadi yang paling besar dengan mencatatkan double-double di 16 poin dan 13 rebound.
Tetapi, Thunder berada di atas angin untuk game ketujuh Senin (23/6) mendatang. Ya, game bakal dimainkan markas Thunder di Paycom Center, Oklahoma City.
“Kami payah (di tiga kuarter awal, Red). Semua harus habis-habisan pada game terakhir (untuk juara, Red)” ucap pelatih Thunder Mark Daigneault. (dio)






