Orang-orang baik ada di mana-mana. Dan aku melihatnya saat bersepeda motor melintasi jalan di sekitar kampus di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Dua orang perempuan berjilbab berboncengan, menepikan sepeda motor mereka dan memberikan kantung plastik berisi makanan kepada seorang bapak tua yang mengayuh kereta angin.
Orang baik ada di mana-mana. Dan aku melihatnya pada wajah-wajah pendukung sepak bola yang membangun sebuah panti asuhan dengan tangan dan hasil patungan mereka sendiri, membagikan Alquran di rumah-rumah Tuhan, mengulurkan tangan untuk mereka yang runtuh karena bencana.
Orang baik ada di mana-mana. Dan aku melihatnya pada diri seorang lelaki tua tanpa alas kaki di sebuah persimpangan jalan yang ramai dengan kendaraan kencang berlalulalang, melambaikan kain bendera merah yang lusuh, mencegat kendaraan-kendaraan untuk berhenti agar orang bisa menyeberang.
Orang baik ada di mana-mana. Dan aku melihatnya di masjid dan gereja, di kelenteng dan pura, menyerukan hal-hal tentang kemurahan hati kepada sesama, sebelum akhirnya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Baik.
[berita-terkait number=”4″ tag=”sosial-budaya”]
Orang baik ada di mana-mana. Dan aku melihatnya pada diri orang-orang yang mengeluarkan uang barang segobang dua gobang untuk membantu orang-orang yang tak mereka kenal di Palestina dan berharap negeri itu merdeka.
Orang baik ada di mana-mana. Masalahnya adalah kita seringkali tak menyukai mereka. Saat seseorang mengunggah foto karitas di media sosial, mendadak kita menjadi Tuhan yang menimbang motif dan mencibir modus. ‘Beramal kok dipamerkan’. ‘Tangan kiri jangan sampai tahu jika tangan kanan memberi’. ‘Riyak itu dilarang agama’. ‘Pasti ada maunya nih’. ‘Pasti uang sumbangan yang digalang dipakai sendiri’.
Bahkan Tuhan saja berprasangka baik kepada hamba-Nya. Dan orang-orang yang menerima uluran tangan itu dengan rasa syukur tak peduli dengan motif. Motif memang awal, tapi bukan apa-apa saat tak menjadi tindakan. Isi kepala tetap isi kepala saat kaki dan tangan tak bekerja.
Kita berdebat mengenai surga dan neraka. Tentang seruan-seruan bahwa sebaiknya kebajikan kita tak hanya dilandasi itikad dan niat untuk mendapatkan surga, tapi murni karena laku kemanusiaan. Mendadak kita meletakkan kebajikan dalam level perdebatan filosofis tak berkesudahan, tanpa kesimpulan.
Saya tidak tahu apakah kita cemburu atau dengki terhadap kebaikan. Alangkah sialnya sebuah negeri yang dihuni orang-orang yang mengumpati kebaikan sebagai tindakan untuk menginjak yang satu sembari menjunjung yang lain. Teori belah bambu. Celakalah kita saat mulai berprasangka terhadap kebajikan yang dilakukan oleh mereka yang kita anggap ‘yang lain’ dan bukan ‘kawan sendiri’. Hidup tak sebrengsek itu tentu saja. Kebaikan tak berpihak.
Itulah kenapa ketika orang-orang baik ada di mana-mana jelang pemilihan umum, seharusnya kita tak perlu gusar dan menjadikannya sebagai salah satu alasan agar pemilihan presiden dikembalikan ke parlemen. Kebaikan tak membutuhkan definisi kawan dan lawan. Ia adalah prinsip universal yang bahkan dalam sebuah peperangan (termasuk politik di dalamnya) pun tak boleh ada demarkasi. Toh kita percaya orang baiklah yang memimpin negeri ini. Mungkin sekali lagi. [wir/ted]






