Teheran (beritajatim.com)– Pengungkapan mengejutkan dari laporan Financial Times mengungkap operasi intelijen jangka panjang yang dilakukan Israel bersama dukungan AS terhadap Iran.
Selama bertahun-tahun, Mossad Israel diduga meretas hampir seluruh jaringan kamera CCTV lalu lintas di Teheran untuk memantau Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Operasi ini menjadi kunci sukses rencana pembunuhan Khamenei pada akhir Februari lalu.
Laporan tersebut, yang dikutip berbagai media seperti Times of Israel dan Hindustan Times, menyebutkan bahwa rekaman dari kamera-kamera tersebut dienkripsi dan dikirim secara real-time ke server di Tel Aviv serta wilayah selatan Israel.
Satu sudut kamera khususnya krusial, karena mengungkap rutinitas pengawal Khamenei, termasuk lokasi parkir mobil pribadi mereka di kompleks dekat Jalan Pasteur. “Kami mengenal Teheran seperti kami mengenal Yerusalem,” ujar seorang pejabat intelijen Israel.
Kolaborasi Mossad dan CIA
Bukan hanya Israel yang terlibat. CIA AS memberikan dukungan intelijen manusia (HUMINT) untuk mengonfirmasi kehadiran Khamenei di lokasi target pada pagi hari serangan. Unit 8200 Israel, spesialis sinyal intelijen, memimpin retasan digital, sementara Mossad merekrut agen lokal.
Selain CCTV, mereka menembus jaringan telepon seluler, mengganggu sekitar 12 menara di sekitar Jalan Pasteur agar pengawal tidak bisa menerima peringatan cepat.
Algoritma canggih digunakan untuk menyaring miliaran data, memetakan pola pergerakan dan struktur kekuasaan di lingkaran Khamenei. Ini memungkinkan serangan presisi dengan jet tempur Israel, yang menewaskan Khamenei pada 28 Februari 2026. Iran menyebutnya sebagai “spionase digital paling canggih” yang pernah mereka hadapi.
Iran membalas dengan tuduhan spionase terhadap AS-Israel, tapi bukti konkret sulit diverifikasi karena enkripsi tingkat tinggi. Operasi ini menandai eskalasi konflik Timur Tengah, dengan potensi perang lebih luas. Saat ini, intelijen Iran berupaya membersihkan jejak digital, tapi kerusakan reputasi permanen bagi pemerintahan Syiah Iran.
Operasi ‘Epic Fury’
Pada pukul 3:38 sore waktu bagian timur pada hari Jumat, saat berada di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan ke Texas, Trump mengotorisasi Operasi ‘ Epic Fury ‘ – nama yang diberikan AS untuk serangannya terhadap Iran dengan bantuan Israel. Bagi Israel, aksi tersebut dinamakan Operasi ‘Roaring Lion’.
Laporan tersebut mengutip pernyataan Jenderal Dan Caine, ketua kepala staf gabungan AS, bahwa militer AS membuka jalan bagi jet tempur Israel untuk mengebom kompleks kediaman Khamenei dengan melancarkan serangan siber yang “mengganggu, menurunkan, dan membutakan kemampuan Iran untuk melihat, berkomunikasi, dan merespons”.
Caine mengatakan kompleks tersebut dihantam pada siang hari setelah adanya “peristiwa pemicu” yang dilakukan oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dengan dukungan intelijen AS.
Pesawat-pesawat Israel, yang telah terbang selama berjam-jam untuk menyinkronkan kedatangan mereka, menjatuhkan sebanyak 30 amunisi berpemandu presisi ke kompleks kediaman Khamenei, menurut seorang mantan pejabat senior intelijen Israel.
“Orang-orang Iran sedang sarapan ketika mereka dibunuh,” kata Trump kepada Fox News.
Militer Israel mengatakan bahwa waktu serangan tersebut menawarkan keuntungan utama. “Keputusan untuk menyerang di pagi hari, bukan di malam hari, memungkinkan Israel untuk mencapai kejutan taktis untuk kedua kalinya, meskipun Iran telah melakukan persiapan yang matang,” demikian pernyataan mereka. (ted)






