Jember (beritajatim.com) – Febriana Dwipuji Kusuma, pebulutangkis putri Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengungkap lawan terberatnya selama Sea Games 2023 di Kamboja dan keberhasilannya menyumbangkan medali emas dan perak untuk kontingen Indonesia.
Dalam pertandingan final ganda putri bersama Amalia Cahaya Pratiwi, Febriana menyabet medali emas setelah mengungguli ganda putri Indonesia lainnya, Meilysa Trias Puspitasari/Rachel Allessya Rose, dengan skor skor 21-17 dan 21-16, di Badminton Hall Morodok Techo National Stadium, Phnom Penh, Kamboja, Selasa (16/5/2023).
“Semua lawan sebenarnya berat, karena kalau sudah sampai pertandingan besar, rata-rata mereka tampil bagus. Tapi lawan terberat adalah diri sendiri. Saya harus bisa memanajemen diri sendiri. Saat hendak bertanding, pasti ada rasa tegang dan nervous. Bagaimana caranya mengatasi itu,” kata Febriana kepada beritajatim.com via ponsel, Rabu (17/5/2023).
Febriana juga dituntut untuk bisa menjaga performanya agar tetap stabil. “Misalkan saya tidak berada dalam peforma yang baik, bagaimana mengembalikannya? Caranya dengan melawan diri sendiri,” kata gadis kelahiran 19 Februari 2001 ini.
Febriana mendiskusikan banyak hal dengan Pratiwi untuk membangun kesepahaman. “Kami memang cukup dekat di luar lapangan maupun di dalam lapangan. Kami sering sharing dan saling menyemangati satu sama lain. Kami evaluasi bersama apa yang perlu diperbaiki,” katanya.
Kekalahan 0-3 dari Thailand di final beregu putri sempat membuat Febriana terpukul. Bermain di partai kedua, ia dan Pratiwi dikalahkan ganda putri Thailand Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai. 15-21 dan 15-21. Medali perak tidak cukup bagi Febriana.
Kakalahan itu membakar semangat Febriana untuk tampil habis-habisan dalam pertandingan final ganda putri. Apalagi sejak awal, Febriana dan Pratiwi memang menargetkan medali emas. “Alhamdulillah, saya senang dan bersyukur bisa memanfaatkan dan memaksimalkan kesempatan yang ada,” kata Febriana.
Tentu tak mudah. Febriana harus beradaptasi dengan banyak hal, termasuk lapangan pertandfingan. “Ini final (Sea Games) pertama saya. Pastinya ada rasa senang dan tegang. Tapi tidak ada kendala besar. Kami harus berusaha beradaptasi dengan cepat,” katanya.
Sebelum pertandingan final, Febriana menghubungi ayah dan ibunya, Didik Tripuji dan Ngatodah. Ini sudah tradisi. “Setiap mau pertandingan saya selalu nge-chat: ‘Ibu, Ayah, Kakak, aku mau main. Doakan ya.’ Waktu itu orang tua berpesan agar saya tetap berfokus dan tidak lupa baca salawat, serta bermain lepas. Bismillah. Tidak ada yang tidak mungkin,” kata Febriana.
Meadli emas Sea Games adalah satu dari sekian capaian gemilang Febriana. “Saya tidak boleh puas, karena perjalanan masih panjang. Prestasi ini harus dijadikan motivasi untuk lebih baik ke depan,” katanya
Sebelumnya, anak bungsu dari dua bersaudara itu pernah menjuarai ganda putri Malaysia Junior International Challenge pada 2018 dan 2019 serta Asia Junior Championship 2018. Pekan depan ia harus berangkat ke Malaysia untuk mengikuti turnamen Malaysia Master bersama Pratiwi.
“Coach Eng Hian mengatakan, ‘saya juara saat di atas podium. Setelah turun dari podium, saya bukan juara’. Saya masih ingin juara Olimpiade, juara dunia, dan juara All England,” kata Febriana. [wir]






