Mojokerto (beritajatim.com) – Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menekankan bahwa pemilahan sampah dari skala rumah tangga merupakan kunci utama dalam mengatasi krisis lingkungan dan mengurangi beban volume di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Instruksi strategis ini disampaikan dalam sosialisasi program Budaya RT Berseri di Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajuritkulon, pada Selasa (10/3/2026).
Langkah ini diambil menyusul status darurat sampah nasional yang memerlukan perubahan perilaku mendasar dari lingkup terkecil masyarakat. Wali Kota yang akrab disapa Ning Ita tersebut menjelaskan bahwa efektivitas pengelolaan limbah domestik kini menjadi indikator krusial dalam penilaian keberhasilan lingkungan di tingkat rukun tetangga.
“Budaya RT Berseri ini bertujuan mengubah kebiasaan masyarakat menjadi budaya, seperti gotong royong, kerja bakti, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengelola sampah dengan baik. Persoalan sampah saat ini menjadi perhatian serius pemerintah karena Indonesia tengah menghadapi kondisi darurat sampah,” ungkap Ning Ita.
Ia menggarisbawahi bahwa tumpukan limbah di sungai dan saluran air di wilayah perkotaan mayoritas bersumber dari sampah rumah tangga yang tidak terkelola dengan benar. Oleh karena itu, edukasi mengenai pemilahan sampah anorganik dan organik menjadi agenda prioritas Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto untuk menciptakan ekosistem lingkungan yang berkelanjutan.
Dalam tinjauannya di Kelurahan Pulorejo, Ning Ita menyoroti produktivitas bank sampah setempat yang belum optimal. Tercatat dari delapan unit bank sampah yang tersedia, hanya empat unit yang masih beroperasi aktif, sehingga diperlukan penguatan peran perangkat RT dan RW untuk menggerakkan kembali partisipasi warga.
“Di Kelurahan Pulorejo ada delapan bank sampah, tetapi yang aktif baru empat. Saya berharap semuanya dapat diaktifkan kembali dengan dukungan RT, RW, serta partisipasi masyarakat melalui kegiatan pemilahan sampah,” tegasnya.
Secara teknis, Lilis Sugiyarni selaku Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mojokerto memaparkan bahwa masyarakat dapat memisahkan sampah anorganik bernilai ekonomi seperti botol plastik, kertas, dan kardus untuk disetorkan ke bank sampah. Langkah ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memberikan nilai tambah finansial bagi warga.
“Sementara sampah organik seperti kulit buah, sayuran, ampas kopi atau teh, serta sisa makanan dapat diolah menjadi pupuk kompos atau dimanfaatkan melalui lubang biopori. Pemilahan sampah sebenarnya sangat mudah dilakukan di rumah. Sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomis bisa disetorkan ke bank sampah,” jelas Lilis.
Penerapan lubang biopori dan pengomposan mandiri di rumah tangga diharapkan dapat memutus rantai distribusi sampah organik yang selama ini langsung dibuang ke tempat sampah tanpa diolah. Sinergi ini sejalan dengan gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang dicanangkan di tingkat nasional oleh Presiden Prabowo Subianto.
Melalui integrasi program Budaya RT Berseri, Pemkot Mojokerto menargetkan terciptanya kawasan permukiman yang bersih dan sehat secara sistemik. Partisipasi aktif warga dalam memilah sampah di sumbernya diprediksi akan memperpanjang usia pakai TPA sekaligus memperbaiki kualitas sanitasi lingkungan di seluruh kelurahan se-Kota Mojokerto. [ian]






