Surabaya (beritajatim.com) – Bagaimana jadinya jika ikut dalam sebuah festival untuk penghormatan kepada Ibu Pertiwi ternyata bukannya menjadi pengalaman membahagiakan tetapi menjadi pengalaman traumatik.
Dilansir dari Metro.co.uk, seorang pengunjung festival menjadi begitu ketakutan dan mengatakan dia ditawari sebagai tumbal dalam pengorbanan manusia untuk Festival Ibu Pertiwi di salah satu wilayah yang letakknya sekitar 50 mil dari kota El Alto, Bolivia.
Pada pembukaan festival Ibu Pertiwi, di malam sebelumnya, penduduk asli menawarkan banyak jamuan mulai dari hewan hidup dan janin domba hingga manisan dan daun koka untuk dewi, yang mereka percaya ‘sesembahan’ laki-laki itu pun mabuk karena begitu banyak menenggak minuman keras yang disajikan.
Namun, setelah dia terbangun ternyata dia terjebak dalam peti mati. Víctor Hugo Mica Alvarez yang ketakutan, 30, merangkak keluar dari peti mati di Achacachi sekitar 50 mil dari tempat ia pingsan.
Victor mengklaim bahwa dia termasuk di antara pengorbanan manusia, beberapa terror nyata masih jadi suguhan dalam ritual gaya kuno itu. Dia mengatakan kepada media lokal, saat tertutup lumpur dan beton, setelah pelariannya yang heroik.
“Tadi malam adalah pra-masuk [festival], kami pergi berdansa. Dan setelah itu saya tidak ingat. Satu-satunya hal yang saya ingat adalah saya pikir saya berada di tempat tidur saya, saya ingin bangun untuk buang air kecil dan saya tidak bisa bergerak. Saat itu saya menyadari bahwa saya berada di peti mati. Saya bisa memecahkan gelas yang ada di dalamnya dan dengan cara itu saya bisa keluar,” ungkapnya.
“Ketika saya mendorong peti mati, saya hampir tidak memecahkan kaca dan, melalui kaca, kotoran mulai masuk. Mereka ingin menggunakan saya sebagai sullu.” tambahnya.
Ketika Victor melaporkan penguburannya ke polisi, mereka menolak untuk mempercayainya – mengatakan bahwa dia terlalu mabuk untuk mengetahui mengapa dia akhirnya dikubur hidup-hidup.
“Saya telah memecahkan kaca, seluruh tangan saya terluka, saya baru saja keluar, tetapi saya pergi ke polisi dan mereka mengatakan kepada saya bahwa saya mabuk. Anda akan menjadi sehat,” kata mereka kepada Victor.
Istilah sullu mengacu pada setiap persembahan yang biasa dilakukan untuk memberikan kembali kepada Ibu Pertiwi, atau ‘Pachamama’, sepanjang Agustus di Bolivia. [adg/beq]







