Surabaya (beritajatim.com) – Berhubungan seksual adalah kebutuhan alami manusia, yakni untuk memenuhi kebutuhan biologis serta memiliki keturunan. Namun, ada negara yang tercatat malas berhubungan seks. Salah satunya adalah Jepang.
Negeri Sakura ini tampaknya mengalami resesi seks lantaran menjadi negara dengan populasi terendah yang memiliki gairah untuk berhubungan seks.
The Oriental Economic melaporkan bahwa warga Jepang hanya melakukan aktivitas seksual sebanyak 45 kali per tahun, tetapi hanya 24% dari mereka yang mengaku senang setelah melakukannya. Begitu pula dengan survei lain di tahun 2011 yang membuktikan jika orang Jepang memang kurang tertarik pada kegiatan seksual.
Sejumlah 30% dari pria Jepang menyatakan malas untuk melakukan seks akibat kelelahan bekerja, sehingga keinginan untuk berhubungan seksual pun semakin pudar.
Belum lagi dengan mayoritas generasi muda yang memilih untuk fokus meniti karir daripada menikah. Alhasil, mereka lebih ambisius terhadap pendidikan atau pekerjaan daripada memikirkan urusan seksual.
[berita-terkait number=”5″ tag=”jepang”]
Hal ini tentu sedikit mengejutkan, melihat bagaimana Jepang juga terkenal dengan industri pornografinya yang cukup besar. Di lain sisi juga menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Jepang lantaran jumlah populasi manusia yang terus menurun di setiap tahunnya.
Disebutkan bahwa keluarga di Jepang memiliki jumlah pewaris yang sangat minim. Bahkan, lebih dari 9 juta rumah kosong telah diambil oleh negara di tahun 2023. Kini ,Jepang sedang mengalami kondisi dimana angka kelahiran sangat rendah. Sebaliknya, jumlah lansia terus meningkat.
Bank Dunia juga ikut mencatat perbandingan penduduk berusia 65 tahun ke atas, di mana Jepang menduduki peringkat kedua di dunia setelah Monaco. Alhasil, pemerintah Jepang pun turun tangan untuk menanggulangi keresahan ini.
Dikabarkan jika pemerintah akan meluncurkan Badan Anak dan Keluarga pada bulan April 2023 mendatang. Bukan tanpa alasan, badan ini dibentuk untuk memberi dukungan kepada para orang tua dan memastikan berlanjut serta meningkatnya populasi di Jepang.
Selain Jepang, Korea Selatan pun mengalami hal yang sama, di mana para wanita berpendidikan di sana lebih memilih untuk mengejar cita – cita ketimbang berhubungan seks apalagi memiliki anak.
Begitupun dengan salah satu negara di Asia Tenggara, Singapura, yang dibuktikan dengan angka kelahiran di Singapura pada 2021 hanya mencapai 1,12 persen. Angka tersebut tentunya terbilang rendah dibandingkan negara – negara lain yang mencapai 2,3 persen. (mnd/nap)






