Surabaya (beritajatim.com) – Bagi masyarakat Jawa, urap merupakan menu makanan yang biasa sekaligus istimewa. Biasa karena kerap jadi masakah rumahan namun istimewa sebab selalu jadi menu pelengkap sajian acara penting seperti nasi tumpeng dan nasi berkat.
Sayangnya, cukup sulit menemukan tempat makan dengan sajian khas urap. Di Surabaya sendiri, menu ini hanya tersedia di Warung Nasi Urap-urap dan Tempe Jaket Bu Mamik.
Warung yang berlokasi di Jalan Gubeng Kertajaya VII E, Kota Surabaya, tepat di samping apotek Viva Generik Dharmawangsa ini bisa dibilang tempat makan legendaris. Sebab, 20 tahun lamanya warung ini setia menyediakan menu urap berbasis sayur dan sambal kelapa parut.
Pemilik warung, Surisdiarmi atau akrab disapa Bu Mamik ini bersyukur dapat terus menyediakan menu urap. Dia mengakui 20 tahun mempertahankan menu tradisional di tengah gempuran kuliner modern bukanlah perkara mudah.
“Ya saya bersyukur masih bisa terus jualan, kan urap-urap itu makanan orang tua, tidak banyak yang tertarik tapi 20 Juli nanti, genap 20 tahun saya buka warung urap-urap ini,” ujar Bu Mamik kepada beritajatim.com.
Bukan melulu karena faktor beruntung, warung Nasi Urap-urap dan Tempe Jaket Bu Mamik ini memang terkenal akan cita rasanya yang otentik. Bu Mamik mampu menghadirkan menu urap dengan sentuhan rasa yang khas dengan dominasi asin dan asin sehingga disukai banyak orang.

Jika biasanya bumbu kelapa parut urap-urap memiliki rasa yang pedas dengan tampilan kemerahan dan cenderung basah, bumbu kelapa urap-urap Bu Mamik punya tekstur berbeda, Kelapa bumbu yang disajikan cenderung lembap namun tak berair dengan warna cenderung ke coklat.
Inilah yang jadi pembeda antara masakan Bu Mamik dengan urap lainnya. Wajar saja jika Warung Urap-urap dan Tempe Jaket Bu Mamik tak pernah sepi pelanggan.
Berjualan selama 20 tahun, Bu Mamik mengaku sudah berpindah lokasi berkali-kali. Meski begitu, pelanggan tak pernah kehilangan jejak dan selalu ramai makan di tempat itu.
Bu Mamik bercerita, semula dia membuka warung di trotoar depan toko yang sekarang menjadi apotek Viva Generik. Kemudian berpindah sekitar 5 meter ke samping kiri, tepatnya di depan balai RW dan gedung serba guna yang kini menjadi Eskrimo Kopi.
Saat pandemi Covid-19, dia Kembali pindah lokasi jualan. Dia sempat berdagang di depan rumah di gang Jalan Gubeng Kertajaya VII E dan kini di teras samping apotek Viva Generik.
Salah satu pengunjung warung, Heri, mengaku sudah lama menjadi langganan Bu Mamik. Dia bahkan hapal betul di mana saja Bu Mamik berdagang.
“Wah saya sudah jadi langganan lebih kalau 12 tahun, sejak trotoar depan itu dulu belum di paving atau ditegel, saya sudah sering makan di sini, meski pindah-pindah saya tetap cari,” ujar Heri.
Heri mengungkapkan urap buatan Bu Mamik punya cita rasa khas. Itulah yang jadi alasan Heri selalu mampir ke warung tersebut.
Dalam berdagang kuliner, urap menjadi andalan Bu Mamik. Meski begitu, warung tersebut punya menu pelengkap seperti tempe jaket atau tempe kemul, juga ayam kampung bakar bumbu rujak.

Ayam kampung bakar bumbu rujak juga jadi primadona di warung Bu Mamik. Yang memb uat menu ini istimewa lantaran bumbunya yang meresep ke dalam daging.
Daging ayam bakarnya punya tekstur lembut. Istimewa saat digigit, rasa rujaknya yang sedap langsung memenuhi mulut. Apalagi disantap dengan nasi urap, jadi perpaduan sangat tepat dan memicu selera makan.
Selain itu, Warung Nasi Urap-urap dan Tempe Jaket Bu Mamik juga punya banyak pilihan menu. Di antaranya udang goreng, wader goreng, lele, bandeng presto, telur, dadar jagung dan tak lupa sambel bajak yang membuat lidah bergoyang.
“Kalau mau cari urap ya ada warung yang lain, tapi kan biasanya jadi makanan pendamping ya, tapi di Bu Mamik ini rasanya lain, rasanya pas di lidah ada manis, asin, pedasnya, saya biasanya seminggu 2 kali beli, juga ayam bakar dan bandeng presto disini mantul pokoknya, mantab betul,” tukas Heri.
Semua menu dimasak sendiri oleh Bu Mamik sehingga kualitasnya terjaga. Selama 10-12 tahun awal berdagang, Bu Mamik bisa menghabiskan 10 Kilogram beras sejak buka pukul 16.30 WIB hingga 22.00 WIB.
Namun seiring dengan semakin bertambahnya usia, Bu Mamik hanya membuka warungnya pada Senin hingga Rabu mulai pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB. Ini lantaran Bu Mamik tak sanggup melayani pembeli sendirian jika harus buka setiap hari.
Salah satu anak Bu Mamik, Lia, menuturkan sebagian besar aktivitas warung dipegang sendiri oleh ibunya, mulai dari belanja, memasak hingga melayani pembeli. Warung ibunya hingga saat ini tidak memiliki karyawan, sementara anak-anak Bu Mamik seluruhnya sudah bekerja sehingga tidak bisa membantu sang ibu.
“Hampir sebagian besar pekerjaan ibu sendiri yang pegang, nggak ada pembantu atau karyawan, saya dan adik-adik semua juga pada kerja, saya cuma bisa bantu di warung saja bantu melayani pembeli, masak semua ibu,” kata Lia.
Lantaran usia Bu Mamik yang mulai renta, Lia dan adik-adiknya meminta sang ibu untuk tidak perlu bekerja terlalu keras. “Jadi semampunya kondisi ibu saja buka warungnya, Kamis itu buka kalau ibu pingin saja,” ujar dia.

Menariknya, meski berlokasi di gang sempit dan buka hanya setiap Senin-Rabu saja, Warung Urap-urap dan Tempe Jaket Bu Mamik tak pernah sepi pengunjung. Banyak yang mengaku kangen ingin makan dengan urap khas warung tersebut.
Lantaran saking banyaknya pelanggan, Lia mengaku harus membuat status di aplikasi WhatsApp. Isinya, info soal jadwal buka Warung Urap-urap dan Tempe Jaket Bu Mamik.
“Para pelanggan itu selalu mencari ibu karena kadang kecele, datang tapi warung tutup, jadi saya kasih nomer saya dan setiap hari buat status pengumaman buka tutupnya warung,” tukas Lia.
Soal harga, Bu Mamik tidak membanderol tidak mahal. Untuk menu standar seperti nasi urap dan tempe jaket atau nasi urap dan dadar jagung bisa dinikmati dengan harga Rp10 ribu.
Jika ingin menikmati nasi urap tempe jaket dengan lauk ikan darat seperti wader atau lele goreng, cukup mengeluarkan uang Rp15 ribu per porsi. Lauk bandeng presto atau udang dibanderol Rp20 ribu. Sedanngkan seporsi nasi urap tempe jaket dengan lauk ayam bakar bisa dinikmati dengan harga Rp35 ribu. Cukup terjangkau bukan? (adg/beq)

as a preferred source on Google




