Surabaya (beritajatim.com) – Ahli Biostatistika dan Epidemiologik Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo mengingatkan masyarakat agar mewaspadai penyakit Leptospirosis di tengah musim penghujan.
Windhu menyebut, leptospirosis termasuk dalam penyakit zoonosis. Ini merupakan penyakit yang bisa ditularkan dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya. Agen dari penyakit leptospirosis yakni bakteri Leptospira.
“Bakteri ini berbentuk lancip dan umumnya tinggal di ginjal tikus. Sangat riskan jika tikus pipis di genangan air saat banjir, sehingga menyebabkan penularan bakteri leptospira dari hewan ke manusia,” kata Windhu, ditulis Sabtu (24/2/2024).
Ia mengungkapkan, bakteri leptospira sangat mudah masuk dalam tubuh manusia terutama saat musim penghujan atau bencana banjir. Contohnya, kaki yang terkena genangan air saat hujan.
“Salah satunya, tidak memakai alas kaki jika terjadi banjir atau melewati genangan. Ditambah, jika ada luka akan mempercepat masuknya bakteri Leptospira didalam tubuh manusia,” ungkapnya.
Salah satu gejala yang kerap kali dialami oleh orang yang mengidap penyakit leptospirosis yakni demam tinggi, tubuh menggigil, mata kekuningan dan nyeri pada beberapa bagian tubuh.
“Gejala yang timbul kerap kali memiliki kemiripan dengan penyakit lainnya. Maka, jika sudah dirasa mengalami gejala tersebut sebaiknya langsung melakukan pemeriksaan oleh tenaga profesional,” ujarnya.
Windhu menyebut, pencegahan leptospirosis dapat dimulai dari diri sendiri, dengan cara menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), vaksinasi secara berkala, mengkonsumsi makanan bergizi dan rutin olahraga.
“Tak lupa, lingkungan yang bersih menjadi salah satu kunci dalam pencegahan leptospirosis. Lingkungan yang bersih tidak hanya membuat nyaman juga menciptakan kehidupan yang bersih dari penyakit,” tandasnya. [ipl/ian]






