Sampang (beritajatim.com) – Musim kemarau yang mulai stabil di bulan Juli 2025 menjadi angin segar bagi para petambak garam di Kabupaten Sampang, Madura. Hujan yang sudah tidak turun sejak awal bulan ini membuka harapan besar bagi mereka untuk kembali mengais rezeki dari ladang garam.
Di Desa Marparan, Kecamatan Sreseh, para petambak tampak bergerak cepat memanfaatkan terik matahari yang justru menjadi berkah bagi mereka. Cuaca panas menandai dimulainya musim produksi garam tahun ini, setelah sebelumnya mereka cukup was-was dengan kondisi cuaca yang belum menentu.
Heri (35), seorang petambak setempat, mengaku telah mempersiapkan lahannya sejak beberapa pekan terakhir. Ia tak ingin kehilangan kesempatan emas di tengah cuaca cerah yang mulai stabil.
“Sejak bulan lalu kami sudah mulai menyiapkan lahan produksi. Semoga musim kemarau kali ini stabil dan hasilnya melimpah,” ujarnya saat ditemui, Selasa (15/7/2025).
Kondisi cuaca memang menjadi faktor kunci keberhasilan panen garam. Hujan yang turun meskipun hanya sesaat dapat merusak proses kristalisasi garam dan menggagalkan seluruh upaya petambak.
Slamet (57), salah satu petambak senior di Desa Marparan, menyebut adanya tanda-tanda alam yang diyakini masyarakat sebagai pertanda musim kemarau benar-benar telah tiba. Menurutnya, surutnya air sungai usai bulan purnama menjadi sinyal kuat bahwa musim kering akan berlangsung lebih lama.
“Air sungai mulai surut, itu biasanya jadi petunjuk bagi kami bahwa kemarau benar-benar telah dimulai,” ungkap Slamet.
Ia menegaskan, keberhasilan panen garam sangat menentukan roda ekonomi masyarakat pesisir. Satu musim panen yang baik bisa menjadi penopang kebutuhan keluarga selama satu tahun penuh.
“Kami semua berharap tahun ini bisa panen maksimal. Garam bagi kami bukan sekadar komoditas, tapi sumber kehidupan,” pungkasnya. [sar/beq]






