Surakarta (beritajatim.com) – Monumen Pers Nasional berada di Jalan Gajah Mada Nomor 59, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
Museum Pers Nasional ini, merupakan cikal bakal lahirnya organisasi wartawan tertua di Indonesia, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Rangga salah seorang Guide mengatakan, Museum Pers Nasional merupakan Unit Pelayanan Teknis (UPT) dibawah Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemkominfo RI).
“Museum Pers Nasional ada 4 layanan,” ungkapnya, Sabtu (10/9/2022).
Yakni layanan taman baca yang ada di depan pintu Museum Pers Indonesia. Di taman baca tersebut berisi tentang koran lokal maupun nasional yang terbit di hari itu dipajang dengan tujuan masyarakat bisa mendapatkan informasi di taman baca tersebut.
“Yang kedua adalah layanan museum yang berisi tentang benda-benda bersejarah yang terkait pers. Yang ketiga adalah ruang E-paper yakni koran salam bentuk digital, koran lama yang dialihkan dalam bentuk digital. Serta keempat yakni perpustakaan,” katanya.
Rangga menjelaskan, di perpustakaan Museum Pers Indonesia memiliki koleksi buku sekitar 20.000 buku. Buku-buku tersebut berisi informasi tentang dunia pers, komunikasi dan informasi. Buku-buku tersebut bisa diakses dan dipinjam oleh umum.
Melansir dari website resmi dari Kemendikbud, Museum Pers Nasional menyimpan benda-benda bersejarah yang terkait pers. Mulai koran dan majalah kuno hingga koleksi barang seperti mesin ketik, pemancar radio, kamera, hingga memorabilia sejumlah tokoh wartawan nasional.
[berita-terkait number=”4″ tag=”solo”]
Bangunan induk Monumen Pers Nasional dibangun sekitar 1918 atas perintah Mangkunegara VII, Pangeran Surakarta, sebagai balai perkumpulan dan ruang pertemuan. Gedung ini dulunya bernama “Societeit Sasana Soeka” yang dirancang oleh Mas Aboekassan Atmodirono.
Pada 1933, Sarsito Mangunkusumo dan sejumlah insinyur lainnya bertemu di gedung ini dan merintis Solosche Radio Vereeniging, radio publik pertama yang dioperasikan pribumi Indonesia. Pada 1937, diperkirakan Solosche Radio Vereeneging menyiarkan musik gamelan secara langsung dari Solo.
Musim gamelan ini untuk mengiringi Gusti Nurul (Putri Mangkunegoro VII) yang membawakan tari Bedhaya Srimpi di Istana Kerajaan Belanda di Den Haag, pada 7 Januari 1937. Sekitar 13 tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 9 Februari 1946, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dibentuk di gedung ini.
Pada tanggal 9 Februari 1956, dalam acara perayaan 10 tahun PWI, wartawan-ternama Rosihan Anwar, B.M. Diah, dan S. Tahsin menyarankan pendirian yayasan yang akan menaungi Pers Nasional. Yayasan ini diresmikan pada 22 Mei 1956 dan sebagian besar koleksinya disumbangkan oleh Soedarjo Tjokrosisworo.
Baru 15 tahun kemudian yayasan ini berencana mendirikan fisik gedung. Rencana ini secara resmi diumumkan oleh Menteri Penerangan, Budiarjo, pada 9 Februari 1971. Nama ‘Monumen Pers Nasional’ ditetapkan pada 1973 dan lahannya disumbangkan ke pemerintah pada 1977.
Monumen Pers Nasional resmi dibuka pada 9 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto. Monumen Pers Nasional saat ini telah mengalami revitalisasi sehingga menjadi lebih modern dengan teknologi-teknologi menarik perhatian para pengunjungnya.
Penyajian informasi yang dahulu berupa teks dokumen, korban maupun majalah saat ini bertransformasi menjadi digital. Dengan pemanfaatan teknologi ini, segala jenis informasi akan lebih mudah diakses oleh masyarakat dan membuat dampak positif. [tin/ted]








