Surabaya (beritajatim.com) – Aspek politik bukan satu-satunya aspek yang diperbincangkan dalam isu penolakan terhadap keikutsertaan Israel dalam Piala Dunia U20 di Indonesia. Aspek lainnya tentu saja adalah aspek sepak bola itu sendiri.
Sebagian kalangan khawatir, penolakan terhadap Israel akan menyebabkan Piala Dunia batal digelar dan berujung sanksi dari Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA). Benarkah?
Dengan semakin dekatnya jadwal penyelenggaraan Piala Dunia U20, kecil kemungkinan FIFA akan membatalkan penyelenggaraan Piala Dunia U20 hanya untuk memaksakan Israel bisa ikut serta. Pembatalan hanya akan merugikan FIFA secara finansial, karena Piala Dunia di semua level melibatkan perputaran uang besar industri sepak bola dari perjanjian dengan sponsor. FIFA akan berhitung dengan itu semua, termasuk potensi gugatan hukum dari perusahaan-perusahaan yang menuntut kompensasi pembatalan.
Memindahkan lokasi tuan rumah bisa saja dilakukan. Namun dalam waktu kurang dari tiga bulan, mungkinkah FIFA menemukan negara yang sanggup menjadi tuan rumah di tengah ancaman krisis ekonomi global? Ini pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab.
Potensi sanksi dari FIFA memang terbuka. Namun dengan posisi Indonesia sebagai salah satu pasar sepak bola terbesar di Asia, organisasi ini harus berhitung lebih matang lagi sebelum menjatuhkan sanksi. Beberapa kali Indonesia terancam sanksi, terutama saat terjadi dualisme liga dan federasi sepak bola dalam sepuluh tahun terakhir. Namun potensi tinggal potensi. Ancaman sekadar mitos atau cerita seram yang selalu didengungkan oligarki sepak bola Indonesa untuk menghindari sorotan publik.
Namun jika ternyata FIFA benar-benar menjatuhkan sanksi berupa larangan bagi Indonesia untuk berpartisipasi dalam pertandingan-pertandingan resmi internasional, maka mari kita bersyukur. Ini akan menjadi momentum penting sepak bola Indonesia unttuk berbenah. Dalam posisi itu, pemerintah bisa mengintervensi dan melakukan perubahan radikal sehingga sepak bola Indonesia menjadi lebih baik. [wir]






