Indonesia akhirnya gagal lolos ke Piala Dunia. Lagi. Kekalahan 2-3 dari Arab Saudi dan 0-1 dari Irak pada babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia memupuskan peluang terbaik dalam puluhan tahun terakhir untuk lolos kali pertama.
Tidak ada yang menduga tim nasional Indonesia berjalan sejauh ini sebenarnya. Selama dua tahun terakhir, Indonesia telah memainkan 20 pertandingan kualifikasi dan menghadapi sembilan negara.
Semua diawali dari dua kemenangan atas Brunei Darussalam, kandang dan tandang, masing-masing 6-0 ;pada putaran pertama. Kemenangan ini meloloskan Indonesia ke putaran kedua, dan menempati Grup F bersama Irak, Vietnam, dan Filipina.
Gol Shayne Pattinama pada babak pertama tak cukup untuk menyelamatkan Indonesia dari kekalahan telak 1-5 dari Irak di Basra Sport City Stadium. 16 November 2023. Pendukung Indonesia semakin merana setelah Timnas Garuda hanya bermain imbang 1-1 dengan tuan rumah Filipina.
Saat orang bersiap dengan kekecewaan, tangan dingin Shin Tae-Yong membangkitkan asa Indonesia dengan membekuk Vietnam 1-0 di kandang sendiri dan 3-0 di kandang lawan. Kendati kalah 0-2 dari Irak di Jakarta, kemenangan 2-0 atas Filipina di hadapan publik sendiri sudah cukup untuk membawa Indonesia melaju ke putaran ketiga.
Indonesia berada di Grup C bersama Arab Saudi, Australia, Bahrain, China, dan Jepang. Tidak ada yang memperhitungkan Indonesia dengan serius. Namun keberhasilan menahan Arab Saudi 1-1, Australia 0-0. dan Bahrain 2-2 membuat publik mulai berharap.
Kakalahan 0-4 dari Jepang dan 1-2 dari China memang mengecewakan. Namun keberhasilan membenamkan Arab Saudi 2-0 di Jakarta bakal dikenang dalam jangka waktu lama oleh publik sepak bola Indonesia. Mungkin sama derajatnya dengan keberhasilan Maulwi Saelan dan kawan-kawan menahan Uni Soviet 0-0 dalam Olimpiade 1956.
Namun lagi-lagi Indonesia belum berhasil mengatasi kebiasaan buruk: menggagalkan sendiri peluang di depan mata. Apapun alasan yang dipakai Ketua Umum PSSI Erick Thohir, mengganti STY dengan Patrick Kluivert, pelatih asal Belanda, di tengah kompetisi adalah kesalahan besar.
Pergantian pelatih di tengah musim kompetisi atau turnamen harus dilakukan dengan alasan kuat. Alasan terkuat seharusnya adalah hasil pertandingan, dan saat itu hasil pertandingan timnas tidak terlalu buruk. Orang Inggris bilang: If it ain’t broke, don’t fix it. Kalau sesuatu sudah berjalan dengan benar, tidak perlu diutak-atik.
Sebelum STY digantikan Kluivert, Indonesia masih berpeluang merebut posisi runner-up grup. Dari enam pertandingan, Indonesia memenangi satu pertandingan, dua kali kalah, dan tiga kali meraih hasil imbang,
Berada di peringkat ketiga klasemen sementara Grup C, Indonesia masih bisa bersaing dengan Australia, Arab Saudi, dan China yang sama-sama mengemas enam angka. Ada empat pertandingan tersisa.
Namun masuknya Kluivert membuyarkan mimpi besar yang diteriakkan di tribun stadion dan di depan televisi jutaan rumah warga Indonesia. Kekalahan 1-5 dari Australia membuat mimpi yang sudah kadung mengawang-awang kembali ambruk ke bumi.
Kemenangan 1-0 masing-masing atas Bahrain dan China di kandang sendiri hanya cukup membawa Indonesia lolos ke putaran keempat. Dan hasil akhirnya kita tahu kemudian.
Sebagai sebuah capaian, tim nasional Indonesia di bawah STY dan Kluivert layak diapresiasi. Namun dibandingkan dengan semua daya upaya untuk menaturalisasi pemain keturunan, kegagalan ini menuntut pertanggungjawaban serius.
Keinginan Erick Thohir membangun proyek jangka panjang bersama Kluivert jelas tidak bisa diterima sebagai alasan kegagalan. Publik memahami naturalisasi besar-besaran pemain keturunan dari Belanda yang mayoritas bermain di klub profesional Eropa bertujuan menembus Piala Dunia.
“When you get players from professional clubs, you don’t need to work on fitness and technique. All you need to do is work on the tactical aspect, or the particular role of a player, or what system you want to use,” kata Stephen Constantine, pelatih asal Inggris, dalam buku How to Win The World Cup yang ditulis jurnalis Chris Evans.
Dan itu yang dilakukan STY dengan pemain-pemain naturalisasi. Dia tak perlu lagi memperbaiki teknik dasar bersepak bola (sesuatu yang dikritik STY terhadap pemain timnas hasil kompetisi domestik). Dia langsung membicarakan taktik di lapangan. Hasilnya: kita bertepuk tangan, dan penonton di tribun kembali mendapat suntikan semangat untuk berteriak lebih kencang penuh keyakinan.
Strategi naturalisasi pemain ini juga digunakan tim nasional Montserrat, sebuah negara di kawasan Karibia. Willie Donachie, pelatih timnas Montserrat, mengirimkan pesan ke Kanada, Amerika, dan seluruh penjuru Eropa. “Saya akan senang hati berhubungan dengan siapapun yang dari Montserrat atau memiliki kekerabatan orang Montserrat,” katanya.
Donachie terpaksa melakukannya, karena hanya ada sedikit pemain sepak bola lokal di Montserrat. Jumlah penduduk Montserrat hanya 4.500 orang. “Susah mengembangkan pemain di sini,” keluhnya.
Indonesia memang bukan Montserrat. Menurut PSSI sebagaimana disitir Kantor Berita Nasional Antara, ada 67 ribu pemain sepak bola di Indonesia. Namun keduanya senasib. Sejak pertama kali mengikuti kualifikasi Piala Dunia pada 1958, Indonesia tak pernah sekali pun lolos.
Bertambahnya jumlah partisipan Piala Dunia dari 32 negara menjadi 48 negara membuka peluang lebih besar. Apalagi Asia mendapat jatah delapan slot langsung dan satu slot playoff antarkonfederasi. Maka di tengah pro dan kontra, naturalisasi pemain masih bisa dipahami publik sebagai proyek jangka pendek.
Sederhana saja sebenarnya. Jika lolos ke Piala Dunia, sepak bola Indonesia dipercaya lebih bergairah dan ini menjadi titik awal kebangkitan sepak bola nasional. Pasalnya, mengharapkan proyek jangka panjang tim nasional dengan memperbaiki kualitas kompetisi liga domestik dari semua aspek jelas membutuhkan waktu lama. Sejak PSSI didirikan pada 1930, urusan ini tak juga kelar.
Maka kegagalan Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 tak cukup hanya diambil hikmahnya. Pertandingan sepak bola membutuhkan tiga angka kemenangan. Hikmah hanya untuk mereka yang kalah.
Dan kegagalan kali menunjukkan, bahwa kita tak pernah belajar. Kegagalan bagi sepak bola Indonesia bukanlah sukses yang tertunda, melainkan ketidakmampuan untuk belajar dari kekalahan dan kesalahan. Dan ini terus berulang, seperti kutukan para Dewa terhadap Sisifus.
Mungkin sudah saatnya PSSI mencari cara lain, dengan menjadi partisipan Piala Dunia CONIFA (Confederation of Independent Football Associations), sebuah konfederasi yang didirikan pada 7 Juni 2013 dan pertama kali menggelar Piala Dunia pada Juni 2014 di Swedia.
Indonesia akan bertanding melawan negara-bangsa yang selama ini diabaikan oleh FIFA, seperti Siprus Utara, Karpatalya, Kurdistan, Artsakh (Nagorni-Karabakh), Ossetia Selatan, Abkhazia, Cascadia, Tibet, dan Turkestan Timur.
Kita cukup yakin tim nasional sepak bola Indonesia akan bisa mengatasi tim-tim tersebut dan menjadi juara. Toh kita pernah mengalahkan sekumpulan pemuda gereja Queensland, Australia, dengan skor 8-0 pada 2012. Mungkin kita hanya butuh atlas atau globe untuk mencari tahu letak negara-negara tersebut. [wir]






