Mojokerto (beritajatim.com) – Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Perhubungan (DPRKP2) Kabupaten Mojokerto diminta menyiapkan rute bus Trans Jatim koridor III. Sentra ekonomi hingga objek wisata menjadi pertimbangan utama penentuan spot halte sebelum dibangun sebagai sarana transportasi publik paling dibutuhkan masyarakat.
Rute bus Trans Jatim koridor III Mojokerto-Gresik akan melintas mulai dari Terminal Kertajaya, Kota Mojokerto, utara sungai, hingga tembus Balongpanggang, Kabupaten Gresik. Kajian rute hingga lokasi shelter atau halte yang pas untuk bisa dilewati bus juga masih dalam pembicaraan Dishub Provinsi Jawa Timur dengan DPRKP2 Kabupaten Mojokerto.
Setidaknya 28 halte atau 17 shelter kanan dan kiri jalan seputar utara sungai yang harus segera ditentukan pekan ini. Shelter tersebut sebagai sarana pemberhentian sementara untuk 20 armada bus yang siap beroperasi sebagai armada Trans Jatim koridor III.
Bus akan dilengkapi pendingin ruangan hingga tempat duduk single seat dan stand seperti pada Trans Jatim koridor I dan II. Termasuk sopir bersertifikat dan pramugara/pramugari.
BACA JUGA:
Staf KONI dan Pelatih Cabor Kabupaten Mojokerto Cukur Gundul
Tarif yang ditentukan untuk penumpang dewasa sebesar Rp5.000 sekali jalan. Sementara pelajar dikenai tarif Rp2.500.
Kepala DPRKP2 Kabupaten Mojokerto, Rachmat Suharyono mengatakan, sebagai pemangku jalan dan wilayah di Kabupaten Mojokerto, pihaknya dimintai untuk menentukan rute dan titik shelter yang pas untuk bisa dilewati bus.
“Baru pekan ini mulai survei rute. Nanti kami yang akan menyetorkannya ke Dishub Provinsi sebelum dibangun shelter,” ungkapnya, Rabu (20/9/2023).
Rachmat mengatakan, dalam penentuan rute pihaknya diminta tidak sembarangan. Ada beberapa pertimbangan yang harus dijadikan acuan untuk membidik rute dan spot strategis halte.
BACA JUGA:
Animo Bus Trans Jatim Tinggi, Damri Akan Tambah 10 Bus Lagi
Pertimbangannya antara lain harus melewati sentra bisnis seperti pasar atau pusat dagang hingga objek wisata yang paling ramai dikunjungi. Termasuk juga layanan kesehatan seperti rumah sakit hingga puskesmas.
“Tujuannya agar masyarakat bisa mudah dan cepat menjangkaunya. Selain itu diharapkan rute tersebut bisa membangkitkan roda ekonomi, khususnya di utara sungai. Eks terminal Les Padangan Gedeg yang saat ini menjadi pasar akan kami jadikan shelter. Termasuk RSUD RA Basuni dan juga ekowisata di Jetis dan Dawarblandong,” katanya. [tin/beq]






