Surabaya (beritajatim.com) – Rantai pasok mobil listrik dinilai sebagai peluang strategis bagi Indonesia dalam industri kendaraan masa depan. Hal ini disampaikan oleh Dosen Magister Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya), Prof. Joniarto Parung.
Menurut Prof. Joniarto, meskipun Indonesia belum memproduksi mobil listrik secara penuh, potensi bahan baku seperti nikel—yang menjadi komponen utama baterai lithium-ion—membuka peluang besar dalam rantai pasok global kendaraan listrik.
“Ditinjau dari bahan baku, kita memiliki cadangan nikel terbesar di dunia sebagai komponen utama baterai lithium-ion. Potensi ini menjadikan Indonesia sangat strategis dalam global value chain kendaraan listrik, terutama untuk manufaktur baterai. Peluang pasarnya juga besar, karena masyarakat kini mulai beralih ke mobil listrik,” katanya, Kamis (8/5/2025).
Ia juga menambahkan bahwa Indonesia dapat memperkuat posisinya melalui pengembangan basis perakitan kendaraan listrik Completely Knocked Down (CKD) dan Semi Knocked Down (SKD). Pemerintah telah memberikan dukungan berupa insentif fiskal dan regulasi konten lokal.
“Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan PPnBM 0 persen, termasuk target local content regulation untuk mencapai minimal 60% di tahun 2027 hingga 2029,” tambahnya.
Namun, Prof. Joniarto mengingatkan bahwa pengembangan rantai pasok merupakan proses kompleks yang memerlukan kolaborasi multi-pihak serta infrastruktur yang memadai. Ia menyoroti pentingnya percepatan proses logistik seperti bongkar muat di pelabuhan.
“Kalau kita lihat negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore, mereka hanya perlu hitungan jam sampai 1 hari untuk bongkar muat atau dwelling time, termasuk untuk loading ke kapal. Maka, infrastruktur yang kita miliki harus cukup tangguh untuk loading dan bongkar muat. Terutama titik-titik krusial seperti pelabuhan ekspor,” tegasnya.
Selain infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor krusial. Prof. Joniarto menyarankan Indonesia belajar dari Tiongkok dalam membangun sistem rantai pasok yang canggih dan terintegrasi.
“Perlu menjadi catatan karena SDM-nya belum banyak. Kalaupun ada, harus di-training dulu. Kita bisa belajar dari Cina, bagaimana mereka membangun sistemnya. Mulai dari infrastruktur, pendidikan sumber daya manusia yang sangat masif, hingga perizinan yang terintegrasi,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti masih lemahnya integrasi sistem data antarwilayah yang menghambat efisiensi rantai pasok. “Jaminan kontinuitas adanya bahan baku supply chain Indonesia masih tidak terlalu kuat. Maka, integrasi data akan membuat prosesnya lebih efektif. Misalnya mengatur kapan beli bahan baku, berapa banyak bahan yang sudah ada supaya tidak banyak menyimpan di gudang,” ujar Prof. Joniarto.
Lebih lanjut, ia menekankan peran penting masyarakat dalam mendukung efisiensi rantai pasok nasional melalui konsumsi produk lokal.
“Misalnya furniture atau tekstil. Adanya demand yang bertumbuh akan mendorong rantai pasok yang dinamis. Karena pengaruhnya juga kembali ke kita, misalnya penjahit, benang dari perkebunan kapas. Atau juga hasil laut dan hasil pertanian. Semakin banyak permintaan, maka semakin banyak penggerak yang terlibat,” ungkapnya. [ipl/suf]






